You know, I watched American Idol season 13 today on Star World and you know what has become a realization to me? The fact that I won’t be too old to chase my dream, to be what I wanna be, to do what I wanna do. I had been thinking about it for like 1 or 2 years, by the time I get 25, I will be very too old to do anything I want. Especially, for reaching whatever I’ve planned for my life, what will decide where my life is going to go.

I was moved after seeing some contestants whose ages are beyond 25. In my heart, there’s still a hope. But, yeah, can’t deny that I’m still believing that I’m gonna be too old to start off my career as a dubber in the future, especially for Disney movies. Despite my doubt and confusion, I make a brave decision, the bravest decision that has ever stormed in my brain: I will train myself as a dubber and a writer, I will start learning and studying deeply by joining courses. Despite my busy activities as a college student.

So, my conclusion now is that you’re actually never too old for your dreams, even though it’s to entertain children and dedicate yourself for Disney. You’ll never be too old to write a book, even though it’s for teenagers. Just watch American Idol and see those who are 28 years old or older than that. You won’t waste any of your time anymore. If you’re just like me, studying in college but having crazy ambitions to pursue your career in your field, for your greatest talent, you actually an chase it, you can have it.

I’m on my journey to that now. My heart leads me to, my steps lead me to, God leads me there. I can feel it. You should feel it. There’s always a space for you, they spare a place for you to fill in. Go for it!

Xoxo,

Ayuri

I target myself as an English-speaking dubber, enrolling in Conversation Class is my first step. I’ll be enrolling in by January. It means, I’ll have a chance to see our great teachers and… OH YEAH!! I met Mr. Chris, Atnas, and Ms. Emma yesterday

Aside | Posted on by | Leave a comment

The Ballad of a Wishful Orphan Teenage Girl (1)

Dia baru saja pulang kuliah, baru saja mau menghela napas setelah mengumpulkan tiga tugas penulisan makalah yang dikerjakannya dalam waktu seminggu–dua tugas kelompok, satu tugas individu–gadis itu ingat dia harus berangkat lagi ke tempat kerjanya di Cikini. Betapa melelahkannya! Dia baru menjalankan kehidupan kuliah-kerja ini selama sebulan, tetapi dia sudah merasa jenuh, ketidakmampuan dan ketidakberdayaan menghantuinya. Apakah aku bisa?

Setelah menunaikan shalat Ashar, dia melirik jam tangan mungil berwarna hitam, hadiah dari ibunya yang entah untuk apa. Nilai bagus, lulus UN, berhasil masuk perguruan tinggi negeri? Yang jelas, arloji itu sudah bertengger di pergelangan tangannya yang kecil selama setahun. Jarum detiknya lepas, rontok karena basah. Gadis itu lupa mengeluarkan jam tangan itu dari saku celananya, tidak sengaja kakaknya yang saat itu mencucikan bajunya menggilingnya di dalam mesin cuci bersama dengan baju-baju kotor lain. Ketika jam tangan itu dia keluarkan dari dalam sakunya, dia hanya bisa mendesah, “Astaghfirullah.”

Untung masih menyala, batinnya dalam hati. Diputarnya pergelangan tangan kecilnya, mengingat saat-saat jam itu hampir mati total. Karena itu hadiah dari ibunya, sebisa mungkin dia menjaganya, minimal tetap memakainya selama mungkin. Angannya, walaupun pada akhirnya jam tangan itu harus mati, dia ingin tetap memakainya. Ini bukan pertama kalinya gadis itu, Lily, dengan ceroboh meninggalkan barang-barang bukan anti-air di dalam saku celana, atau apapun yang memiliki saku. Berkali-kali dia meninggalkan headset di dalam saku, banyak headset yang harus merasakan dinginnya air cucian dan wanginya detergen lalu keluar dari dalam mesin mengerikan itu yang telah merusak komponen-komponen di dalamnya. Yang terparah dari semuanya adalah, pemutar musik seukuran sedikit melebihi jari tengahnya, juga pernah ikut merasakan ganasnya putaran mesin cuci.

Segera dia membereskan barang-barangnya di dalam tas, juga memeluk buku-buku yang sudah tidak muat lagi masuk ke dalam tasnya. Dia mengucapkan selamat tinggal kpeada teman-temannya, lalu pergi. Dengan seluruh pikiran beterbangan kemana-mana, Lily tidak bisa tidur di dalam bus, sesuatu yang biasanya dengan mudah dia lakukan jika dia sedang bepergian. Jika memungkinkan dan tidak membahayakan dirinya, Lily bisa tidur di atas motor. Dia sering melakukan itu sewaktu SMA, saat pamannya mengantarkannya dengan sepeda motor, tahu-tahu Lily merasa wajahnya diterpa angin sejuk saat dia tertidur. Ternyata, motor pamannya sudah melaju di atas flyover Pasar Rebo, parahnya, ternyata pamannya sedang mengajaknya bicara. Bakat terpendam Lily: mendengarkan cerita sambil setengah tidur.

Mobil, motor, truk, bus, lalu lalang secara bergantian di luar bus. Sampai di satu jalan, semua jenis kendaraan itu tampak memadat, memblokir jalanan dengan masing-masing pengendara memukul-mukul klakson dengan tidak sabar. Seandainya bisa, Lily ingin minta supir bus berhenti dan lebih memilih ke tempat kerjanya dengan jalan kaki, atau setidaknya berjalan kaki sampai menemukan kendaraan terdepan dari barisan kemacetan yang tidak kenal permisi dan sopan santun itu. Tapi, tentu saja Lily tidak bisa. Meskipun busnya kosong–hanya tiga orang di dalamnya, termasuk LIly sendiri–dan Lily memiliki kesempatan besar untuk minta turun, di luar hujan, jalanan pasti becek. Itulah penyebab padatnya jalanan.

Lily merasa sial. Sudah berlama-lama dia menunggu bus tiba karena jarangnya bus ini lewat di jalanan, dengan payung dan berdiri memeluk tasnya agar tidak terlalu basah, dia juga harus terjebak kemacetan lagi setelah paginya dia mengalami hal yang sama. Kemacetan, di mana pun itu, terlihat sama. Sama-sama menyebalkan, sama-sama menyesakkan. Lily hanya brharap dia tidak terlambat tiba di tempat keranya karena dia ingin memberikan kesan yang baik kepada senior-seniornya di organisasi tempat dia bekerja itu.

***

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Night Night!

Hey, again guys! This shall be my last post for the day. I wish you a wonderful night and beautiful dreams. Don’t forget to brush your teeth and wash your feet, don’t use your pajamas backward, and…. you may have a glass of milk or watch TV for an hour before bed. Ok, good night, everyone! See you later!

Good Night Sleep Tight

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

101 Random Things About Me (part 2) (I’m not sure what I wrote before)

Hey, folks! It’s me again, writing the next part of the random things of mine. Well, not really that random coz as you all will see, it’s all common things. But, I leave you guys this in case you see me in the future. So, you can be prepared for anything weird that might happen because I’ve launched the mini dictionaries about things you should know about me. For most people might think that this is not important. Yeah, I admit that this post is trashy. I just need to re-write something I’ve found on my note so that I would not lose a thing, or maybe even forget that I’ve ever written it. Well, I told you before, didn’t I?

So, here it is, guys! The trashy-but-I-wish-could-be-useful-someday post of mine. Don’t learn it too hard! Beware!

22. I don’t wanna waste my time for useless relationships I might have

23. I will cry if I feel like I can’t handle anything anymore

24. I enjoy jokes, I’ll laugh so hard with the right people I know

25. My past wasn’t okay, so I decide not to go back there anymore

26. I wish I could ask for classic life: no television, no Apple products, internet, whatsoever

27. I don’t get tired and mad easily, but I’m too sensitive, so fuck yeah…

28. I’ve never been in any relationship. I like being free.

29. I wish I could get rid all of the annoying people. Who? You give a damn?

30. I’m afraid of starting a commitment with a boy. I worry too much

31. If you’re nice to me, I’ll be nicer to you

32. I love:

a. Mom

b. Dad

c. My brother (if he’s in his best condition)

d. My Auntie I call Kak Imah

e. And her son, Ridho, which makes him my cousin

f. Beethoven and Mozart, my cats

g. myself

h. Rieno

i. Astri

j. Devina

k. Atnas

l. Ratna

m. Kak Dhama

n. Dimas

o. Mr. Chris

33. I dare to act childish with everyone I’m comfortable with

34. I support people who are worth it

35. When I apologize, I really mean it

36. I laugh like everything’s okay

37. I’m afraid of ghost, but I sure loooove horror movies

38. I like V for Vendetta so much, like nothing’s better than this movie

39. I have a crush on Eminem

40. I like someone easily once I get comfortable with them

41. I never wanna put a fight first, but if someone sparks the fire on me, I’ll do it

Posted in Uncategorized | Leave a comment

(Maunya) Dijajah Inggris

Sering kudengar kelakar teman-temanku ketika masih bersekolah dulu tentang:  lebih enak dijajah bangsa apa, Belanda, Portugis, atau Inggris? Fakta bahwa bangsa Indonesia dijajah bangsa Belanda selama 350 tahun dan dipekerjakan sebagai buruh kasar (baca: budak) membuat aku dan teman-teman berspekulasi tentang kemunduran yang dialami negara kaya kami saat ini. Jepang juga sempat menjajah bangsa kami selama 3,5 tahun. Gara-gara mereka, wanita sempat dijadikan dan dipandang hanya sebagai ‘mainan’ yang boleh-boleh saja dilecehkan dan dipergunakan sesukanya pada masa itu. Apakah berhubungan dengan penjajahan yang waktunya mungkin terasa selamanya bagi orang-orang pribumi saat itu?

Jawaban kami selalu, iya. Tidak pernah berubah dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun ketika kami mendiskusikannya kembali. Tampaknya, kami menyetujui pernyataan itu secara umum, berdasarkan fakta–fakta yang kami kumpulkan dari buku-buku sejarah sekolah. Ada satu nama penjajah yang sangat kuingat, dulu, sebelum aku lulus SMA dan menjadi mahasiswi Psikologi dan dicekoki beragam buku yang tidak ada lagi hubungannya dengan pelajaran-pelajaranku ketika masih memakai seragam sekolah.

Bukan, mungkin. Benar juga kalau dibilang setelah dijajah Belanda, bangsa kami menjadi–selain terpuruk–terbelakang. Why?

1. Indonesia dijajah selama 350 tahun

2. Penduduk asli Indonesia malah disuruh kerja keras alias kerja rodi sama pemerintah Belanda dengan mendapatkan hasil sedikit

3. Pemerintah terbiasa dengan kerja sama tidak halal dengan pemerintah Belanda untuk melancarkan monopoli perdagangan (Bagaimana korupsi tidak menjamur sekarang ini?)

4. Banyak jalanan Indonesia yang merupakan hasil kerja paksa selama masa pemerintahan Belanda. (Sisi baik: All hail, jalan tol dan tempat wisata!)

5. Selama masa penjajahan Belanda, pendidikan terbaik disediakan hanya untuk anak-anak Belanda, sementara sekolah-sekolah kecil kategori jelek diberikan untuk pribumi. Baru bertahun-tahun setelahnya anak-anak Indonesia diizinkan bersekolah di sekolah yang lebih bagus, bahkan setara dengan sekolah anak-anak Belanda

6. Hak perempuan untuk mengenyam pendidikan masih sangaaaaat terbatas, sampai turunlah malaikat bernama Raden Ajeng Kartini.

7. Terlalu banyak perjanjian yang dibuat antara pihak Belanda dan Indonesia yang dilanggar. Akibatnya, perbuatan ini ‘ditiru’ oleh pemerintah kita pada zaman sekarang yang juga hobi mengobral janji. *oops

8. Dulu, barang-barang yang dijual ke Belanda adalah komoditas sumber daya alam berharga yang seharusnya bisa menjadikan rakyat Indonesia kaya raya sekaya-kayanya. Sekarang, SDA Indonesia banyak yang dieksploitasi dan menyebabkan kemiskinan secara materi, dan moral.

9. Banyak kisah-kisah yang saya dengar tentang patih-patih bejat yang bekerja sama dengan Belanda, mengikuti gaya hidup Belanda, berpihak pada Belanda, hingga mengkhianati rakyatnya, tetapi habis juga pada akhirnya. Saya sedang menunggu kelanjutan kisah hidup kita sekarang ini yang katanya mulai niru-niru orang bule. Fenomena yang kita sebut sebagai Westernisasi.

10. Saya lupa mau menuliskan apa di nomor sepuluh ini, yang saya ingat gara-gara hobi menjual apa saja demi ditukarkan dengan emas dan barang-barang berharga lainnya dari kumpeni, masyarakat Indonesia jadi suka terima uang. Menghalalkan apa saja asal bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup, tidak peduli bahwa sumber daya yang kita punya semakin menipis.

Dari hal-hal yang saya sebutkan di atas, Anda pasti berpikir dulu bangsa Belanda itu jahat banget. Tidak menorehkan apa-apa yang berarti bagi Indonesia kecuali ketakutan dan kebangkrutan, yang memang pada akhirnya menumbuhkan kekuatan yang sangat besar untuk menumpas para penjajah. Hanya saja, dari hasil diskusi kami, bangsa Inggris meninggalkan sesuatu yang sangat berarti bagi Indonesia. Thanks to Thomas Stamford Raffles, beliau lah orang yang menemukan bunga bangkai yang terkenal di Taman Raya Bogor–sekarang jenis bunga yang baunya (katanya) memang ‘seharum’ sampah dan bangkai ini bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Beliau juga yang meletakkan dasar ilmu pengetahuan botani untuk masyarakat Indonesia pelajari, ternyata banyak kan hasil-hasil bumi yang bermanfaat di Indonesia?

Inggris, meskipun juga ikut menjajah kami, membiarkan kami bereksplorasi dan mengenyam pendidikan. Mereka tidak pelit berbagi ilmu dan hasil yang orang kita dapatkan untuk kita. Yaaah, memang sih dijajah dijajah juga. Namun, aku dan teman-temanku setuju bahwa seandainya Inggris menjajah lebih lama lagi, kita memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan kita, bahkan mungkin menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua agar kita bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang asing, since English is a universal language.

Lihat saja Singapura, Malaysia, Australia, dan India, sebagai contoh. Mereka adalah negara jajahan Inggris yang sekarang dikategorikan sebagai negara maju. Saya tidak mengatakan bahwa Inggris adalah satu-satunya alasan sebuah bangsa bisa menjadi pintar dan cerdas dan memiliki martabat, tetapi dari fakta-fakta lapangan yang membuktikan Inggris, dengan kekuatannya (dan gaya menjajahnya) tidak melulu menorehkan keburukan seperti bangsa penjajah lain. Pastilah mereka telah berbagi resep, nilai-nilai yang ditanamkan kepada masyarakat bangsa jajahannya sehingga mereka bisa menjadi negara maju sekarang ini. Amerika Serikat juga sempat dijajah Inggris, tetapi AS akhirnya melawan dan merdeka dari Inggris bahkan membuktikan mereka bisa menjadi negara adidaya di muka bumi ini.

Pun kita tidak lama dijajah Inggris dan sangat lama dijajah bangsa lain yang lebih rakus, ternyata kita tidak cukup cerdas menggunakan pengalaman nenek moyang untuk tidak terlalu terpengaruh oleh kebaikan atau kejahatan orang lain–dalam hal ini, bangsa lain–pada kita. Justru tertanam hal-hal yang buruk dan parahnya diturunkan dari generasi ke generasi yang malah akhirnya menghancurkan bangsa sendiri.

Terlepas dari apakah benar bangsa penjajah memengaruhi kualitas bangsa jajahannya, yang jelas Indonesia memang telah kehilangan akar-akar budi pekerti yang sudah susah payah dibangun oleh nenek moyang agar kita memiliki identitas dan jati diri yang jelas. Ketidakarifan orang kita untuk memutuskan hal-hal yang mungkin merugikan dirinya, kelak akan merugikan negaranya. Entah kapan, tetapi bisa jadi.

Xoxo,

Ayuri

Posted in Uncategorized | Leave a comment

3, 2, 1… BLOG! Zero to Hero starts now

Originally posted on The Daily Post:

The Zero to Hero 30-Day Blog Challenge starts… wait for it… now!

Your first task is up on the main Zero to Hero page, along with some helpful resources and a link to our first forum thread, where you can chat with other challenge participants. You can also tag published posts with zerotohero to make it easy for us to find one another — after all, blogging isn’t just about you, it’s about community.

View original 217 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Getting Your New Blog Off on the Right Foot: Thinking Content

Originally posted on The Daily Post:

It’s the second day of the year. Time to roll up your sleeves, take a deep breath, dive head-first, grab life by the horns, and use up all known clichés about fresh new starts.

With that out of the way, it’s also time to blog. Yesterday, Michelle started you off with some tips on making your blog personalized, inviting, and easy to navigate. Today, it’s time to think about the content itself — let’s walk through the basic building blocks you’ll need to make sure your readers have something to chew on when they come for a visit.

View original 809 more words

Posted in Uncategorized | Leave a comment