Cold Rain

Mr. Bishop, muncul sekali lagi di hadapanku, berjalan menuju halte bus di seberang tempat les bahasa Inggris-ku. Beliau guruku, sebelumnya. Sosok yang baik, simpatik, peduli, cukup serius, dan formal. Cara berpakaian dan bicaranya cukup resmi, beliau juga sopan. Agak berbeda dengan guru kami sekarang, Mr.Chris. Kebalikan dari Mr. Bishop, beliau adalah seseorang yang sangat santai, cuek, dan berjiwa muda.

Kalau Mr. Bishop selalu memakai kemeja setiap mengajar, Mr. Chris selalu terlihat dengan T-shirt. Yeah, I know. Everyone has their own style. But, having these two contrast characters in less than a year, in my life, is just so unique. I see a father-figure in Mr. Bishop, then I see a cool brother-figure in Mr. Chris. I’m always having a good time in my course place. I got unique teachers and great friends. The greatest part is, they’re all my juniors. I’m the only college student in my class. The rests are high school students. Well, feeling like young again. (Going to 20 is cool, the coolest thing ever! But, I’m recalling what I was like in high school when I see them)

However, lately, I regret something.

Aku bisa menghitung berapa kali aku tersenyum dan tertawa bersama Mr. Bishop dan adik-adik kelasku. Keadaan bisa lebih buruk ketika aku mengalami bad mood setelah hari yang melelahkan, membingungkan, membuat marah dan kesal di kampus. Ketika emosiku naik, rasanya aku hampir tidak mengenal rasa bersalah, rasa tidak enak, atau rasa segan. Pertanyaan simpatik, lelucon, atau kata-kata nasihat sekalipun bisa tidak kudengarkan sama sekali. Aku bisa saja memasang wajah tidak menyenangkan saat Mr. Bishop mencoba mengajakku bercanda. Setelah melakukannya, aku baru merasa tidak nyaman.

And that’s bad. Itu terjadi berkali-kali.

Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah kemarin. Lagi, saat kami berjalan keluar tempat les menuju tempat pemberhentian kendaraan tujuan masing-masing. Pertama aku bertemu dengannya saat jam pulang seminggu yang lalu, beliau bertemu ibu dan adikku, tapi hanya mengobrol denganku. Kepeduliannya ditunjukkan dengan menanyai jumlah murid yang masuk hari itu, dia menanyakan kabarku, dan teman-temanku. Kemarin, saat aku bertemu dengannya, dia menanyakan kabarku, dan bagaimana rasanya diajar Mr. Chris.

Malam itu, suasana hatiku sedang baik. Aku tersenyum padanya dan menjawab pertanyaannya dengan senang hati, “It was amazing. Great. I like it.”  Dia menanggapi, “Really?” Aku melihatnya tersenyum, senyuman yang selalu dia berikan pada murid-muridnya tak peduli betapa buruk tanggapan yang diterimanya. “Yeah, really,” jawabku.

Setelah itu, kami berpisah setelah dia menutup pembicaraan sambil lalu, “Take care.” Sampai aku naik angkot, duduk, dan mendengarkan musik mengalun di telingaku, sepanjang perjalanan lah aku baru berpikir, “Aku menjawab pertanyaannya dengan sesuatu yang jarang, bahkan hampir tidak pernah kuberikan kepadanya.”

Lalu, aku mulai ingat betapa tidak sopannya aku ketika suatu hari aku masuk ke kelasnya dengan wajah tertekuk, semakin tertekuk saat aku melihat jam di dinding yang menunjukkan aku telat sepuluh menit. Mr. Bishop tersenyum padaku sembari bertanya, “Hallo, how are you today?” “Bad.” Sudah, seperti itu saja aku menjawabnya. Kemudian, aku duduk di bangku tengah dekat pilar tempat hampir semua adik-adik kelas manisku bersedia mengambil bangku hanya untuk bersandar malas disana. Mengingat itu, Mr. Bishop pun menggodaku, “Kau duduk di dekat pilar itu. Sekarang kau bisa menghela napas sebentar disana, mungkin hingga tertidur.” Teman-temanku tertawa, Mr. Bishop tertawa, aku tidak.

Wajahku semakin tertekuk. Menatap wajahnya seolah memberi isyarat bahwa yang barusan itu tidak lucu. Dia memerhatikannya, begitu juga yang lain. Tawa mereka pun terhenti. Mr. Bishop mengalihkan perhatian, “Okay. Ehem… Mari kita lanjutkan. Nah, Yuri. Apa pendapatmu tentang agama?”

Aku ingat sekali kelakuanku yang satu ini.

Di rumah, aku menyunggingkan senyum pada ibuku dan seluruh penghuni rumah, menunjukkan bahwa aku sangat senang. Pelajaran hari itu sangat menyenangkan, seperti biasanya. Namun, sayang sekali, senyuman itu hanya topeng wajahku, yang berusaha terlihat jujur dan tulus. Ada penyesalan yang sulit kuhapus di dalam hatiku, mengenai perlakuan tak adilku kepada Mr. Bishop. Bisa-bisanya aku bilang padanya bahwa kelas hari itu menyenangkan, Mr. Chris itu baik, secara tidak langsung menyiratkan bahwa hari itu terasa sangat sempurna. Mau tidak mau aku jadi berpikir, apa dia merasa bahwa dialah masalah aku nyaris tidak pernah tersenyum di kelasnya? Apakah dia penyebab rasa tidak nyaman pada diriku sehingga aku bisa tersenyum dan tertawa sekarang di kelas Mr. Chris? Pertanyaan-pertanyaan syarat suudzon terus berkelebat di kepalaku.

Kenapa aku jujur saja padanya bahwa aku lebih senang diajar olehnya? Mengapa dulu aku tidak membuatnya merasa senang dengan senyumanku? Mengapa aku bertingkah seperti anak-anak tidak dibelikan mainan yang diinginkan selama belajar bersamanya? Mengapa ini, mengapa itu. Hatiku serasa dihujam secara halus, diam-diam tanpa merasakan sakit dan menyadari bahwa hatiku telah mati. Pikiranku beku, rasanya hancur.

Aku nyaris menangis. Rasanya dingin sekali, aku melahap makan malamku tanpa selera sedikit pun. Sungguh menyesal rasanya bukan karena mengingat peristiwa itu saja, tapi juga mengingat betapa kelakuanku cukup buruk dari awal hingga akhir pertemuan pertamaku. Kuingat segala kebaikannya dengan terus membawa-bawa buku rapor bertuliskan komentar positif tentang aku dari Mr. Bishop, ulasan singkat novel Edgar Allan Poe tulisanku mendapatkan komentar dan perbaikan-perbaikan positif darinya. Apa yang telah kuberikan padanya benar-benar tidak sepadan dengan apa yang telah dia lakukan padaku.

Karena aku mencintai tempat itu, bagaimanapun suasana hatiku, sebenarnya aku selalu senang berada disana. Semarah, se-bad-mood, sesedih apapun diriku, rasa cintaku tetap tidak berkurang terhadap tempat les itu. Aku bisa katakan, tempat les bahasa Inggris itu adalah rumah kedua bagiku. Seandainya beliau tahu, aku mungkin sangat marah saat itu, aku mungkin telah bersikap begitu dingin. Tapi, rasa marahku tidak serta merta kulimpahkan pada tempat yang berisi orang-orang yang kusayangi. Kuharap dia menyadari itu.

Mr Bishop : seorang pria yang belum menikah, memiliki sifat seorang ayah yang bijaksana, penuh perhatian dan kasih sayang, peduli, cukup humoris, berpakaian dan berbicara dengan formal, sopan, serius, yaaah…. intinya, dia sangat ke-bapak-an.

Berbeda dengan Mr. Chris yang penampilannya agak urakan, gaya bicaranya yang cuek, asyik, santai, lebih cocok dijadikan teman sebaya daripada guru.

Well, aku menulis semua ini saat aku melihat keluar jendela yang basah, memerhatikan hujan yang turun terus menerus, didampingi angin kencang nan dingin yang menyadarkanku bahwa cuaca seperti ini jarang terjadi di Jakarta. Matahari menghindar seharian penuh, ditindas oleh angin dingin yang mengibas-ibaskan dedaunan, ranting-ranting pohon, dan kanopi rumahku hingga berderak-derak.

Mungkin seperti itulah Tuhan menyadarkanku, aku sedingin hari ini. Aku adalah hujan dingin yang menerpa tiada ampun, lalu melihat ke bawah dan menyesali, “Mengapa aku membanjiri tempat kecil ini?”

Dan tempat kecil itu, wajah Mr. Bishop yang tenang.

Xoxo,

Yuri

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s