Morning Alarm

Dialog-ku setiap pagi:

Shalat subuh dengan mata sembab, masih mengantuk, rasa malas bangun, kepala pusing berputar-putar, mengakibatkan gerakanku jadi kacau dan pikiranku terfokus untuk segera menyelesaikan shalat karena aku ingin….. melanjutkan tidur (?).

Aku berhasil, aku bisa tertidur kembali. Seperti bayi yang habis ditimang-timang, diberi susu hangat, dan dinyanyikan lagu “Sweet Nightingale”. Sempat kutengok jam dinding di kamar Mama (ya, aku tidur di kamar Mama karena hanya kamar itulah yang memiliki AC), kucingku membangunkanku pukul 07.05 berdasarkan jam itu. Seperti biasa, dia mengganggu di kaki-kakiku lalu mulai mengelus-elus wajahku, dan kemudian dia tidur di sampingku. Apa-apaan? Sudah biasa, sih. Yang paling mengejutkanku, tiba-tiba aku bangun, maksudku benar-benar terbangun, pukul 08.00!

YA!! 08.00 PAGI!!!

Rasanya itu seperti…. seperti…..

Image

Ya, kira-kira seperti itulah. Bayangkan saja, Aku sudah merencanakan seluruh kegiatanku di hari Minggu nan suci nan fantastis ini.

– 05.00-08.00 : Exercising (ya, muluk sekali)

– 08.00-09.00 : Mandi, sarapan, blablabla

– 09.00-11.00 : Beres-beres rumah, ngasih makan kucing, bersihin kamar gue bekas kontaminasi kucing (Kucing-kucingku tidur di kamarku semalaman)

– 11.30-13.00 : Nulis, baca, shalat, makan

– 13.00-13.30 : Nulis sebentar

– 13.30-15.30 : Les gitar

– 16.00-17.30 : Exercising

…. dan akhirnya aku menikmati sore yang sempurna di hari Minggu!! Tapi, tidak lagi! Semua jadwal yang telah kubuat dengan baik, DI DALAM OTAKKU, berantakan semua, ditaklukkan oleh rasa kantuk laknat yang melenakan. Oke, tidak ada gunanya marah-marah. Instruktur pilates virtual-ku, Cassie Ho, harus menunggu ‘murid-virtual-yang-tidak-pernah-ditemuinya’ ini seratus persen terbangun dan menyesali apa yang telah dilakukannya.

Padahal, dari awal liburan aku sudah BERJANJI untuk melakukan usaha meningkatkan tinggi badan selama sebulan penuh. Dengan pilates, dance, makan sehat, menghindari junk food, and all those bullshits I would’ve loved to do! Faktanya, aku menghabiskan seminggu PENUH dengan tidur, makan, tidur, makan, dan ketika aku menimbang berat badanku muncul angka 52,2. Sebenarnya aku tidak keberatan karena tujuanku juga…. well, agak berdosa juga aku ngomong begini, aku ingin sedikit lebih gemuk.

Angka ini sungguh menghiburku, tidak bohong. Namun, lalu aku menyadari, apa saja yang telah membuatku gemuk. Ada sedikit pikiran terbersit di benakku, rasa bersalah. Sejumput rasa bersalah, aku paham kenapa tubuhku bisa segini gemuk. Selama empat tahun terakhir, berat badanku hampir tidak pernah menyentuh angka 50. Ketika aku melihat angka 52, aku mulai menyalahkan aktivitas-aktivitas yang kulakukan selama lebih dari setengah tahun ini.

Sibuk dengan pelajaran-pelajaran tambahan untuk ujian nasional, waktu-waktu ekstra untuk mempersiapkan diri ikut tes SNMPTN dan tes-tes masuk universitas negeri lain, pusing tak terhingga yang kualami, kemalasan yang mendera, dan yaa itu semua bisa dijadikan alasan aku nggak olahraga sih.

Nggak lagi-lagi, ah….. Please, jangan tiru akuuuu!!

Yuri

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s