Dandananku, dan Timothy

Well, selamat pagi…

Inilah diriku pagi ini, bersiap-siap mengunjungi sebuah pesta pernikahan–tidak, sebenarnya dua pesta pernikahan, satu digelar siang ini, yang lain digelar malam ini–di gedung yang sangat familiar untukku di sekitar Rawamangun. Gedung tempat aku mengalami orientasi yang berorientasi ‘penyiksaan semi-halus-kasar’, semua kenangan buruk itu tercipta dalam waktu seminggu. Sering, di dalam kepalaku, aku mengimprovisasi rencana untuk kabur, misalnya pura-pura sakit, atau aku pingsan di rumah sakit karena aku sakit hati digencet selama tiga hari percobaan ini.

Sungguh, aku tidak tahan. Setiap jam empat pagi, aku berangkat diantar ibuku naik taksi, menuju gedung sialan itu dengan berbagai persyaratan. Ada batas yang diperkenankan jika kita diantar oleh orang tua, melebihi batas itu, salah satu senior akan datang dan menegur kita dan ketika matahari mulai terbit dari Timur, nama-nama yang tercatat, ketahuan melanggar aturan, akan dipanggil dan diberikan sanksi yang, sungguh, jika aku ingat sekarang ini, terasa konyol dan tidak ada dampak positifnya sama sekali terhadap si pembuat maupun pelaksana hukuman.

Aku jadi ingat, di hari pertama itu, aku membawa seluruh persyaratan yang dengan tidak masuk akal ditetapkan oleh para senior kami yang ingin merasakan dirinya menjadi bos yang melaknat anak buah. Jilbab berwarna kuning dari kain furing, slayer dari kain berjenis sama berwarna hijau, sepatu pantofel yang dengan pergumulan batin hebat kupakai setelah mencari di berbagai toko, kaus kaki berwarna putih–aku sudah biasa memakai kaus kaki panjang, jadi itu bukan masalah), name tag dari kardus yang dilapisi karton berwarna hijau dengan logo universitas yang digambar sendiri, foto berukuran tiga kali empat yang kutempel di sisi kiri karton, lalu nama, nomor mahasiswa, jurusan, dan motto hidup di sisi kanan, semua ditulis menggunakan spidol permanen. Aku keluar dari taksi pada pukul setengah lima.

Ibuku, yang hobi sekali melanggar bahkan setelah aku memohon untuk tidak melanggar, melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh panitia orientasi untuk tidak melebihi batas mengantar. Taksi kami terus melaju hingga beberapa meter dari gedung tempat acara berlangsung. Dengan segala keengganan dan rasa ngambek yang tinggi, aku berusaha menolak apa yang dilakukan oleh ibuku. Tapi beliau wanita keras kepala yang selalu menganggap apapun yang dilakukannya akan berdampak baik-baik saja (persis seperti ayahku, tapi ibuku tidak mau mengakuinya) sehingga supir taksi pun dibuatnya menurut dan kami terus melaju di depan sebuah pusat perbelanjaan yang tidak terlalu mewah tapi terlihat menakjubkan dengan lampu-lampu gedungnya di malam hari.

Saat itu, dingin, gelap, seperti rabun ayam–aku tak tahu apa rasanya rabun ayam–aku bergantung pada langkah-langkah kaki di bawahku. Penglihatanku begitu buruk sehingga aku tidak bisa meraba apapun secara tepat. Aku selalu takut jatuh atau tersandung tanjakan karena pada saat gelap, aku tidak bisa membedakan mana jalan yang rata dan yang bergelombang. Aku pernah terjatuh dan terperosok ke suatu lubang, meskipun lubangnya kecil tapi jantungnya berdetak sangat cepat karena aku tidak mengantisipasi lubang itu sebelumnya.

Setelah taksi ibuku pergi, aku merasa senang sekaligus bingung ketika ada seseorang menghampiriku. Dia calon mahasiswa juga, tapi dia mengenakan slayer berwarna merah, bukan kuning sepertiku. “Maaf, Kak.” Begitulah sapaan pertamanya, membuatku tertegun sekaligus tertawa. Aku tidak sempat mengenakan slayer di taksi tadi. Ketika turun, aku berencana langsung memakainya karena tidak mau tertangkap basah senior dan dihujani serangkaian hukuman. Belum sempat aku memakainya, mahasiswa ini menghampiriku dan mengira aku senior.

“Bukan, coba lihat gue,” kataku padanya. Dia melihatku dari atas sampai bawah. Ketika pandangannya sampai ke atas lagi, aku sudah bersiap dengan slayer kuningku. “Gue juga sama. Mahasiswa baru juga.” Kami pun tertawa, dia mengencangkan tali sepatunya ketika kuperhatikan dia juga bersusah payah membawa perlengkapan sepertiku. Dia menjulurkan tangannya padaku, simbol perkenalan diri. “Gue Timothy.” Oke, Timothy. “Can I just call you Timmy? Gue Ayu.”

“Oh, Ayu. Jurusan apa?”

“Psikologi. Lo apa? Warna slayer-nya merah.”

“Gue Manajemen.”

Lalu, kami saling menanyakan asal sekolah masing-masing. Aku tidak begitu memperhatikan apa yang dikatakannya karena terlanjur tenggelam oleh rasa senang, lega karena tidak sendirian, dan kagum oleh orang ini. Dia cowok berkulit putih, berambut ikal, sekitar dua puluh sentimeter lebih tinggi dariku, dan yang terpenting, dia memiliki senyum yang manis. Sosok itu terlihat samar di dalam gelap, antara bayang-bayang wajahnya dan bayang-bayang efek kegelapan bercampur di seluruh tubuhnya. Aku baru bisa melihat sosoknya dengan jelas ketika lampu kuning jalanan menerpa badannya yang tinggi. Terlihatlah dengan jelas kulitnya yang putih, wajah yang dipenuhi jerawat beserta bekasnya, rambutnya yang ikal, dan tubuhnya yang agak bungkuk.

Kami berjalan memasuki gedung tempat acara akan berlangsung. Senior-senior yang berjaga di pintu depan dan di pintu masuk gedung lain di dalam, sama sekali tidak bersedia bekerjasama. Cenderung mengerjai kami dengan memberikan informasi ngelantur sembari mereka sendiri sibuk mengatur calon-calon mahasiswa dari divisinya. Aku ingat sekali, mereka berasal dari Fakultas Ilmu Keolahragaan. Wajah tidak menyenangkan, kedua alis turun, mata melebar, suara tegas menyiratkan kesombongan, terlontar ke arah kami saat kami bertanya di mana kami harus menunggu.

Dengan tidak menyenangkan, mereka menunjukkan kami arah asal-asalan. Telunjuknya menuju ke satu arah, lalu temannya yang lain menunjuk ke arah yang berbeda. Jadi, aku dan Timothy berjalan ke depan dan ke belakang gedung tanpa tujuan. Aku mulai mengeluh, begitupun dia. Untunglah ada seorang senior yang cukup baik menunjukkan kepada kami di mana kami harus menunggu. Senior yang sama sekali berbeda dari yang lainnya, dengan senyum ramah, mata cerah, suara halus, dan tutur kata yang santun. Dia menunjuk ke sebuah jalan sempit di antara dua pagar, di dalamnya hampir tidak terlihat apa-apa, hanya sebuah mesin minuman yang terkunci, jajaran meja dan kursi panjang, juga pohon-pohon dengan batu-batu yang bisa diduduki. Kami berterima kasih pada senior itu. Aku tidak tahu dengan Timothy, tapi aku bersyukur dalam hati karena bertemu dengan senior itu. Meruntuhkan segala stigmaku, untuk sementara, tentang senior yang bersifat ingin memberi pelajaran pada para junior.

Aku dan Timothy masing-masing duduk di sebuah kursi plastik, di hadapan kami meja panjang berdebu tanpa ada apa-apa. Minuman, sedotan, atau apapun yang menunjukkan bahwa meja ini pastilah dipakai sebagai meja makan saat istirahat. Kami pun mulai mengobrol, mengakrabkan diri kami di tengah kegelapan dan rasa sepi karena tidak ada siapa-siapa atau suara yang lebih familiar selain teriakan dan gertakan senior-senior yang tadi kami temui.

Kami memecah keheningan di sekitar kami dengan bercerita dan tertawa, aku menemukan bahwa Timothy adalah orang yang lucu. Aku tidak berusaha kenal dekat dengannya, tapi dia terus bertanya padaku yang memancingku bertanya padanya juga, hingga aku mulai berani membuka percakapan, dan dia melontarkan lelucon-lelucon seputar pekerjaan yang nantinya akan aku jalani sebagai seorang psikolog.

Aku tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang kami bicarakan saat itu. Yang aku ingat hanyalah, orang yang bernama Timothy inilah yang berhasil membuatku ‘jatuh cinta’, menemaniku hingga lapangan dipenuhi calon mahasiswa yang lain pada pukul lima pagi. Ketika acara berlangsung, sampai keseluruhan acara selesai, aku hanya mencari sosok Timothy. Tapi, aku belum menemuinya lagi.

***

Seperti itulah aku menggambarkan diriku pagi ini –entah aku menggambarkan diriku secara keseluruhan atau juga sedikit menyelipkan cerita pertemuanku dengan seseorang bernama Timothy. Untuk pergi ke pesta pernikahan yang digelar di gedung itu, aku memakai pakaian yang tidak biasa aku pakai. Baju batik berwarna merah dengan motif rumit berwarna biru, kerah lebar, panjangnya sedikit melebihi pinggang, tanpa kancing, setiap sisinya disatukan dengan tali kain berwarna biru. Untuk bawahannya, aku mengenakan rok jeans biru yang mengulur hingga mata kaki. Lalu, kupadankan dengan jilbab biru, bros kecil berwarna hitam, kaus kaki, dan sepatu hak tinggi berwarna merah.

Beda sekali dengan pakaian sehari-hariku yang mementingkan kenyamanan dengan berpakaian cuek: kaus, celana jeans, jilbab yang mengulur hingga ke dada, lalu sepasang sepatu sneakers.

Baju itu hanya kukenakan selama sekitar sepuluh sampai lima belas menit di tempat pesta. Tidak dihitung saat kami di perjalanan. Ternyata, baju yang kupakai itu terasa nyaman. Awalnya, kupakai dengan rasa sedikit terpaksa. Walaupun senang juga bisa tampil agak beda dari tampilanku yang biasanya.

Aku berniat memakai baju itu lagi untuk pesta malam harinya. Namun, aku mendapati diriku mengunjungi tempat pesta yang salah, untuk yang ketiga kalinya. Aku tidak tahu pesta pernikahan siapa yang kukunjungi sampai aku melihat jejeran karangan bunga ucapan selamat dari berbagai nama orang-orang terkenal, gedung resepsi yang mewah, dan yang terpenting dari semuanya, makanan pestanya yang enak dan mahal.

***

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s