Pesta Besar

Malam itu diterangi cahaya bulan purnama akibat efek Supermoon : cahaya putih yang dipantulkan ke bulan secara keseluruhan berdampak pada langit dan tanah dan bangunan-bangunan di bawahnya, barisan-barisan debu yang terkumpul di bawah cahaya bulan turun seperti adegan dalam film Sleeping Beauty dimana ketiga peri Aurora turun untuk mengucapkan selamat atas kelahiran si bayi menakjubkan itu. Baju pesta yang kukenakan tadi siang kukenakan lagi untuk pesta pernikahan malam ini. Pesta itu digelar di Balai Kartini, yang sama sekali belum pernah kumasuki.

Nama gedung Balai Kartini itu sangat familiar dengan tempat digelarnya konser acara pencarian bakat di sebuah stasiun televisi swasta. Karena konser itulah, nama Balai Kartini jadi terdengar lumrah di telingaku. Aku pikir, itu hanya sebuah gedung biasa yang dlengkapi jajaran bangku-bangku penonton dan sebuah panggung, persis seperti yang kulihat di televisi. Ternyata, saat aku memasuki gedung itu, semuanya tampak berbeda. Sama sekali berbeda. Taksi kami harus berjuang melewati lautan mobil yang berdesakan ingin memasuki lahan parkir gedung tersebut. Butuh sekitar sepuluh menit sampai akhirnya taksi kami berhenti di depan tangga pintu masuk dan menurunkan kami disana.

Aku sudah cukup bingung melihat jejeran karangan bunga dari menteri-menteri dan orang-orang penting lain di suatu perusahaan di depan pintu masuk dan sepanjang parkiran. Yang paling membuatku takjub adalah karangan bunga dari Wakil Presiden Republik Indonesia. Entah berdoa atau memohon semoga tidak ada yang lebih membuatku ternganga daripada ini, aku berharap semoga aku terlihat bisa membaur dengan orang-orang yang akan aku hadapi di dalam gedung nanti.

Ternyata, tidak juga.

Saat kami menapakkan langkah pertama kami ke dalam gedung, kami diaambut dengan meja-meja yang dilapisi kain putih lembut, hiasan berukir di sisi meja dengan diterangi lampu di bagian dalamnya, penyambut tamu yang didandani sangat spesial dan dipasangi gaun-gaun cantik berwarna putih dan ungu yang senada dengan warna lampu disana yang tidak terlalu terang, memberikan kesan sedikit redup tapi terasa romantis. Para undangan memakai gaun yang bisa dikatakan jauh berbeda denganku.

Aku ingat aku melihat para wanita memakai gaun dengan belahan dada rendah, bagian punggung yang terbuka, dihiasi syal di sekitar leher mereka, tas-tas yang dilapisi kain beludru atau manik-manis, sepatu hak tinggi, rambut disanggul tinggi, riasan mata gelap dan volume alis yang dipertebal, wangi parfum yang menyengat, dan lipstik yang senada dengan pakaian mereka. Ada juga wanita berjilbab yang mengenakan gaun panjang dengan model jilbab modis seperti yang sering diajarkan cara pemakaiannya di televisi dan majalah, dan video-video di Youtube. Sebagian dari mereka, tidak ragu mengenakan gaun yang pas di badan, ada juga yang mengenakan gaun sedikit longgar.

Setelah aku memperhatikan dengan jelas dan benar dan seksama apa yang mereka kenakan di pesta itu, aku mulai membandingkan pakaianku dengan mereka. Kuku-kukuku tidak kupoles seperti mereka. Jangankan itu, wajahku saja tidak kupolesi bedak, bibirku tidak kusapukan lipstik, jilbabku biasa saja yang menutupi dada. Aku memang pakai sepatu hak tinggi, tapi bagian haknya tidak setinggi dan seruncing yang aku lihat pada mereka.

Ibuku total berdandan untuk acara ini. Aku tampil biasa saja karena aku menyangka pesta ini hanya sebuah pesta malam biasa. Ternyata, ini adalah pesta ketiga di mana aku terjebak di kalangan orang-orang atas.

Lebih jauh lagi, di dalam ruangan tempat resepsi itu digelar, mataku disambut pemandangan nyaris serba putih –kalau bukan karena adanya latar belakang hitam di setiap dinding dan semburat keunguan yang dipancarkan dari lampu-lampu di bagian belakang ruangan. Langit-langit ruangan tertutupi sepenuhnya oleh gorden-gorden berwarna putih, bergelombang bagaikan laut yang menari-nari di kejauhan, bedanya mereka tepat di atas kepala kita. Gorden-gorden bergelombang itu menari-nari dengan sangat indah, memberikan kesan dinamis, ramah, dan elegan dalam satu waktu. Di tengah-tengah ruangan, sajian prasmanan sudah ditata dan disediakan, dan sialnya, ditutup. Masing-masing meja dijaga oleh satu orang yang penampilannya terlihat seperti koki. Dengan topi tinggi putih berlepit-lepit, baju putih yang agak panjang, dan celana panjang putih. Baju itu terlihat seperti diikat di bagian pinggang.

Masing-masing orang yang menjaga meja membuka tutup penutup sajian yang terbuat dari logam, ada yang menyalakan lilin, dan menyiapkan minuman yang terbuat dari cokelat. Astaga! Aku takut berdosa karena fokusku tidak lagi pada kedua mempelai yang kedatangannya direkam dan ditayangkan di sebuah televisi besar yang terletak di sisi kiri ruangan, mataku tertuju nyaris sepenuhnya pada bunyi mesin berdesir-desir yang menyiapkan minuman cokelat. Blup! Blup! Aaaah, bayangkan minuman itu meluncur ke tenggorokanku. Sungguh, aku harus menyalami pengantin itu dulu beserta keluarga yang mendampinginya sebelum aku menyapa “Halo!” ke seluruh makanan yang akan aku santap.

Aku bingung kenapa aku bisa sampai menghadiri undangan ini. Ibuku bilang, ibu dari si mempelai wanita adalah istri seorang mantan jaksa besar yang merupakan teman kuliahnya dulu. Namun, aku sungguh heran ketika kami bersalaman, si wanita itu tampak tidak mengenali ibuku, bahkan mengacuhkannya setelah menghaturkan terima kasih.

Entah lupa atau apa, ada kesan dingin di wajahnya setiap kali dia menerima tamu. Dia tidak tampak, seperti pernah kenal dengan ibuku. Aku ragu dia kenal ibuku.

Aku ragu kita di pesta yang benar. Aku ragu berdiri disini.

Tapi, perasaan ragu itu tidaklah lama!

Ternyata, kenalan ibuku bertebaran di ruangan ini. Dan mereka semua adalah teman sekampus ibuku dulu! Bahkan ada mantan dosennya juga! Aku dan adikku berkenalan dengan semua orang yang dihampiri ibuku. Kami bersalaman, saling memperkenalkan diri, tersenyum satu sama lain, menanyakan kabar masing-masing, dan menanyakan ayahku.

Agak salah juga. Saat ini, aku tidak ingin ada seorang pun yang menanyakan keberadaan ayahku. Bukan apa-apa. Beliau meninggal sebulan yang lalu dan aku belum siap menerima kenyataan itu sampai hari ini. Bukan tidak menerima juga. Hanya saja, ada semacam guncangan kecil di dalam kepalaku yang merembet ke seluruh tubuh, mempengaruhi syaraf-syaraf hingga perutku, yang menyebabkan rasa pusing yang luar biasa. Rasanya, seperti kau melayang di atas tanah tapi tidak benar-benar melayang. Hanya isi kepalamu yang  melayang karena guncangan kecil itu. Mataku berkunang-kunang, tapi aku tetap terlihat biasa saja di depan semua orang.

Di saat mereka sibuk menyalami tangan ibuku dan menyampaikan belasungkawa mereka, pikiranku melayang kembali ke tanggal 17 Mei di saat semua itu terjadi. Atmosfernya sama sekali berbeda, suasana menegangkan, membingungkan, mengharukan, bercampur aduk di hari yang sama. Setiap orang yang membahas kematian ayahku, seketika itu juga aku akan terbang ke saat tidak menyenangkan itu.

Ketika aku tersadar aku berada di tengah orang banyak, aku akan terhuyung ke belakang dan diriku akan segera menafsirkan aku hanya pusing biasa. Pusing itu tidak akan hilang sampai pembicaraan itu berakhir sampai dua puluh menit ke depan. Aku akan melontarkan senyum seakan-akan aku paham apa yang sedang mereka bicarakan. Tidak akan ada yang sadar akan apa yang terjadi padaku. Mereka akan terus mengobrol lalu berlalu dengan wajah sedih, menampakkan keprihatinan.

***

Semakin lama berada disana, semakin banyak teman-teman Mama yang kulihat. Waktu kami menghadiri pesta di Rawamangun siang tadi, aku kenal hampir semua teman kantor Mama, kecuali teman-teman beliau di kantor yang baru. Karena pesta di Balai Kartini ini didominasi oleh teman-teman kuliah beliau, aku nyaris tidak kenal satu pun dari mereka. Aku terkejut ketika mereka menyebutkan namaku dan adikku.

Kasus kebocoran jantungku memang menjadi cerita umum di kalangan keluarga dan teman-teman orang tuaku sejak aku dimasukkan ke ruang ICU untuk menjalani operasi. Setiap kali aku bertemu teman-teman Mama, yang pasti mereka ingat adalah, “Hah? Ini Ayu? Yang kecil dulu itu, kan? Ya, ampun! Sekarang udah gede ya.” Ya, badanku terkenal kecil dulu. Susah makan, pesakitan, langganan rumah sakit. Seperti itulah mereka mengenalku. Kasus itu seperti ‘tanda lahir’ku. Tanpanya, aku tidak memiliki ciri khas sehingga sulit dikenali, di samping karena aku anak yang tertutup, aku jarang keluar rumah, apalagi sekedar untuk beramah tamah.

Ada satu orang teman Mama yang wajahnya mirip sekali dengan tanteku –yang merupakan mantan istri kedua pamanku– aku nyaris menyangka itu dia, sampai aku melihat sosok tinggi besar yang dibawanya. “Ini anak Tante,” dia memperkenalkan laki-laki bongsor di sampingnya, berambut cepak, berwajah kotak, berkacamata (seperti aku), mengenakan baju batik berwarna hijau lumut. Dia menyalami kami dengan tangannya yang besar, terlihat kontras dengan ibunya yang tingginya hanya sepinggang dari dia. Tante itu bercerita, dia anak kedua dari dua bersaudara. Anak bungsu.

Dan kau tahu berapa usianya? Kupikir dia adalah seorang pria yang sudah lulus kuliah, bekerja, memiliki pacar –atau mungkin istri dan anak, keherananku terjawab ketika aku tidak melihat siapapun yang terlihat seperti istrinya atau anak kecil yang terlihat seperti anaknya. Dengan tinggi sekitar 180-an dengan bahu lebar, dia hanya beda setahun denganku. Usianya baru dua puluh tahun.

“Oh, Ayu baru sembilan belas. Baru semester dua.”

Mama berkata dengan bersemangat sementara mataku sibuk menatap sosok tinggi besar itu. Hingga tiba saatnya kami bersalaman dengan kedua mempelai, pria itu selalu terlihat berada di dekat ibunya. Dari belakang, aku melihat dia sebagai orang yang tak perlu repot-repot menjulurkan kepala untuk melihat seisi ruangan, ketika Dahlan Iskan memberikan kata sambutan untuk kedua mempelai, atau ketika menteri lain memberikan ucapan selamat. Kamera yang mengitari seisi ruangan pasti bisa menangkap gambarnya dengan mudah tanpa harus bersusah payah. Dari seluruh tamu undangan yang hadir, dia satu-satunya orang yang paling tinggi. Aku belum melihat yang lain selain dia. Mungkin ada, tapi mungkin tidak terjangkau oleh mataku.

Sementara aku, aku harus berjinjit bahkan untuk melihat ke layar besar yang menampilkan orang-orang yang hadir dan tarian yang ditampilkan untuk memeriahkan acara. Aku seperti anak kecil di tengah lautan orang banyak. Tubuhku tidak begitu pendek, tapi aku memang dikelilingi oleh orang-orang yang memakai sepatu hak tinggi dan berbadan lebih besar dariku, sehingga aku terlihat lebih tenggelam dibandingkan yang lain. Seberapa panjang pun aku menjulurkan leherku, aku hanya bisa melihat yang tertangkap oleh mataku saja. Dan sajian prasmanan itu benar-benar eye-catching, aku tidak bisa menolaknya.

***

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s