How We Feel About You (1)

Here comes the farewell, sesuatu yang sudah lama kuantisipasi, tapi tetap tidak bisa kuterima saat dia akhirnya datang.

Tidak benar-benar berpisah juga: dipisahkan oleh dinding-dinding yang lain, pintu-pintu yang lain, jendela yang lain, tempat les yang lain, kota yang lain. Tidak separah itu. Ini hanya perpisahan kecil saja, saat kami harus memilih jalur les yang lain ketika jalur les yang sedang kami jalani ini akan digantikan dengan yang lain. Kami harus memilih dua jalur les yang tersisa.

Jika kita harus memilih salah satu, ada kemungkinan pilihan kita akan berbeda, tidak akan sama seperti selama ini. Enam bulan terakhir hidupku kuhabiskan, kudedikasikan untuk tempat les yang menyenangkan, yang sama sekali tidak seperti tempat les kebanyakan dimana kita hanya belajar, mencatat, memahami, pulang. Dengan teman-teman yang tidak memberdayakan sama sekali, ngobrol kanan kiri, pikiran teralihkan jauh ke belakang, dari masalah yang seharusnya kita bahas. Terpaku dengan pembelajaran ‘kelewat klasik’ dengan papan tulis putih, spidol, buku tulis, buku cetak, penjelasan guru. Itu terjadi sebulan sebelum kami mendapatkan guru baru.

Aku mendapati temanku berpendapat soal gaya mengajar Mr. Rhys yang kelewat formal. Tidak seperti Mr. Chris, yang santai, terkadang terlalu santai. Dulu, aku agak terkejut ketika melihat sosok beliau untuk pertama kalinya. Jauh dari kesan seorang guru, seorang pengajar, seorang yang akan menjadikan anak didiknya berguna bagi nusa dan bangsa.

Jangan bayangkan guru ini akan mengenakan kemeja dengan celana bahan, dasi diikatkan di kerah baju, sepatu pantofel hitam mengilat, dan topi diangkat setiap kali dia masuk ke kelas. Sosok guru seperti ini tidak akan kau dapatkan dalam diri seorang Christopher Anderson.

Jauh di bawah keterkejutanku, aku secara sadar melihat seseorang berdiri di depanku dengan rambut gimbal dikuncir berantakan, memakai kaus dan celana jeans. Sepatunya bukan sepatu pantofel. Aku tak yakin apa namanya, yang jelas, saat itu juga aku langsung beranggapan bahwa dia tidak akan  memakai sepatu pantofel dan terlihat rapi.

Dia, sebenarnya, terlihat menawan. Wajahnya cukup tampan, ada sedikit kesan imut di balik guratan wajah yang menampilkan nyaris-ketuaannya –siapa sangka umurnya sudah hampir menginjak kepala tiga, maksudku, dia memang benar-benar imut. Senyumnya manis sekali, the way he laughs is so funny. Dia bisa geli sendiri bahkan saat kami sudah selesai tertawa. Dia mengakui, –dan akhirnya kami menyadari– bahwa perhatian beliau gampang teralihkan. Distracted, or we so-called it faffing. The newly verb we’ve known for telling someone is easily distracted, like him.

Kami mencintainya selain karena kehumorisannya, cara dia membaur dengan anak-anak dari segala usia memudahkannya diterima di lingkungan. Dia bersikap manis dan bersahaja kepada siapa saja. Kekreativitasannya dalam mengajar membuat kami tidak lepas dari bangku kami, dia membuat kami bisa duduk diam hanya dengan permainan-permainan yang dia ingin kami mainkan. Cara belajarnya unik, asal kami bisa serius dan berkonsentrasi, dia tidak ada masalah dengan kami mengobrol.

Dia sendiri juga sering di tengah-tengah proses belajar menanyakan beragam kata atau kalimat dalam Bahasa Indonesia. Dia sendiri sedang dalam proses belajar Bahasa Indonesia, sudah setahun dia menginjakkan kaki, tinggal, dan berbakti untuk negara ini. Dia bukan lagi guru untuk kami, dia teman kami. Dia adalah seseorang yang bisa menggantikan hangatnya matahari di dalam ruangan yang dingin, memuaskan lapar dan dahaga kami dengan lelucon-leluconnya dan cinta kasih yang tidak ragu dia perlihatkan pada kami.

Kami sungguh-sungguh mencintainya. Kami dibuat nyaman di kelasnya. Meskipun kami sering berkata, “Kami bosan!”, buktinya kami mampu bertahan dan bersenang-senang di kelasnya selama enam bulan ini. Dan ketika kata menyesakkan itu datang, farewell, aku tidak tahu lagi aku harus berkata apa. Di titik inilah aku sadar, bukan kemampuanku membawa diri yang membuatku betah di kelas ini, bukan hanya itu, jika itu juga salah satu faktornya. Mr. Chris lah yang membuat seluruh tubuhku menginterpretasikan kelas ini sebagai rumahku, memengaruhi otakku dengan mengirimkan sinyal kekeluargaan dan persahabatan, dan hormon-hormon kesenangan dalam diriku untuk meluncur bebas lepas ke seluruh aliran darahku termasuk ke wajah agar aku menyunggingkan senyum dan tertawa dengan ikhlas.

Itulah faktanya. Hampir setiap detik hidupku, aku bisa merasakan kehadiran mereka di setiap pembuluh darah dan serabut-serabut saraf yang kumiliki.

Aku hanya bisa terbuka kepada mereka, Mr. Chris dan teman-teman sekelasku, di tempat kursus itu. Keterbukaan kami adalah salah satu bukti kesuksesan Mr. Chris dalam mendidik kami. Kami tidak ragu berbagi apapun dengannya, dalam kondisi seperti apapun. Dia akan selalu datang dan memberikan uluran tangan, menghibur kami dengan caranya hingga senyum kami kembali lagi ke tempatnya. Walaupun kami suka bercanda ketika dia bertanya, “Kalian merindukanku?” dengan menjawab, “Tidak,” mungkin itu adalah satu dari ribuan candaan khas kami. Tidak mungkin kami tidak merindukannya, kami mengharapkan kedatangannya.

Aku ingat ketika aku bilang padanya di tengah-tengah pelajaran bahwa aku pusing dan merasa mual, dia serta merta menawarkan bantuan, “Kau mau kuambilkan air?” Guru, mengambilkan air untuk murid, dengan sukarela? Aku pasti sudah gila. Aku menggeleng. Aku membawa air di dalam tasku, tapi tak bisa kusentuh karena untuk bergerak sedikit saja rasa mual itu akan muncul kembali. “Mungkin, kau punya permen.” Dan dia akan berjalan keluar dan mengambilkanmu permen!

Dia membiarkan kami mengungkapkan ketidaksukaan kami pada permainan-permainan tertentu–aku banyak memainkan peranku disini. Mengungkapkan kelelahan kami di sekolah akibat ujian bertumpuk dan tugas-tugas yang belum kelar. Dia sama sekali tidak keberatan dan malah tertawa bahkan menggoda kami dengan sesuatu yang kami benci, dan kami sama sekali tidak keberatan.

Dia tahu apa yang kami sukai, apa yang kami benci, apa yang kami takutkan, apa yang sedang terjadi di negara ini karena laporan kami yang berapi-api, apa cita-cita kami, dan apa yang pernah kami katakan di pertemuan terakhir atau di pertemuan-pertemuan lain sebelumnya.

Dia banyak bercerita kepada kami tentang keluarganya Di Gloucestershire. Dia bahkan bercerita pada kami secara terbuka–dan kami menertawainya– bagaimana kelahirannya sendiri dia sebut tidak normal, karena kebanyakan bayi lahir dengan posisi kepala turun lebih dahulu. Tidak dengannya. Dia lahir dalam keadaan sungsang, bokong turun lebih dulu daripada kepalanya.

“Mungkin inilah yang membuatku sedikit tidak waras. Aduh!” ceritanya sambil melontarkan keluhan favoritnya dalam bahasa Indonesia. Aduh.

Bagaimana mungkin kami tidak tertawa mendengarnya? Dia juga bilang dia adalah campuran kemiripan yang sempurna dari orang tuanya. Rambut merahnya, yang Rieno sebut dengan ginger, his left-handed-ness, kecerdasan seninya, kesukaannya pada fotografi adalah beberapa hal yang dia lukiskan kepada kami.

Ketika Rieno menyebutnya dengan ginger, tak berapa lama, dia bangkit dari tempat duduknya dan menyalakan video di Youtube. “Aku ingin menunjukkanmu sesuatu, tentang ginger itu. Ada seniman Inggris yang menyanyikannya dengan cara tak biasa. Dia unik sekali,” katanya ringan, sambil tangannya sibuk menekan-nekan tombol tetikus, tanpa menoleh kepada kami.

Di dalam video itu, terlihat seseorang dengan rambut gondrong seperti tidak pernah disisir, janggut dibiarkan panjang hingga membentuk jambang yang lebat, dia tidak berkumis, duduk di atas bangku sambil jari-jarinya menari-nari di atas piano dengan lincah. Awalnya, aku tidak bisa menangkap apa yang dinyanyikan oleh orang itu. Ketika teman-temanku tertawa, aku ikut saja, berharap yang mereka tertawakan adalah cara bicara orang itu yang lucu. Aku kurang bisa menangkap aksen Inggris. Lebih sulit daripada aksen Amerika.

Setelah video diputar selama beberapa menit, barulah aku mengerti alasan mengapa Mr. Chris menunjukkan video itu pada kami. Sang seniman berwajah teler itu menyanyikan lirik, “Only a ginger, can call another ginger ginger. Yeaaah.” Saat itulah tawaku langsung meledak karena aku mengerti, begitu juga teman-temanku yang lain.

Mr. Chris hanya tertawa saja, kemudian dia tersenyum kecil sambil jarinya menunjuk ke arah monitor, seakan hendak berkata, “Dengar apa yang dia katakan barusan?”

***

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s