The Wedding Party : HOBO, and Food!

Maaf, tulisan gue ternyata belum kelar. Oke, mari dilanjutkan meskipun udah telat seminggu!

Mataku terus beredar ke sekeliling ruangan seakan-akan mencari sesuatu yang telah hilang dan aku tahu persis apa yang kucari. Kalau boleh jujur, aku tidak tahu apa yang sebenarnya kucari. Ruangan dipenuhi aroma makanan dan minuman manis dari berbagai sudut. Aroma gurih, asam, asin, pedas, tampaknya sudah akrab di hidungku jadi aku bisa mengidentifikasi aroma dengan mudah, tinggal menghirup sekali, aku langsung tau bau makanan apa itu.

Dugaanku nyaris benar semua. Nasi putih dan nasi goreng, sayur sop, ayam goreng. Hanya itu yang bisa kudeteksi. Selebihnya, ada seafood yang digoreng dengan tepung –entah ikan atau udang, bentuknya bulat– di dalam nasi goreng itu juga ditambahi sosis. Kerupuk tidak berbau. Selain karena kerupuk itu diletakkan di wadah tertutup, aku tidak peduli baunya akan seperti apa. Toh, aku tidak akan memakannya. Masing-masing makanan utama itu disajikan di nampan stainless steel dengan sesuatu seperti kompor kecil diletakkan di bagian bawah. Kau pasti tahu apa namanya, aku tidak tahu apa nama benda-benda itu meskipun aku sering melihatnya di berbagai acara pernikahan, sunatan, atau pesta rumah biasa.

Di sekeliling kami, selain makanan-makanan utama, ada dua meja yang khusus menyediakan hidangan pencuci mulut. Pencuci mulut!! Di samping meja makanan utama, ada meja yang menyediakan puding-puding di dalam gelas-gelas kecil dengan aneka rasa. Stroberi, cokelat, dan karamel. Di seberang meja, kue-kue kecil dalam beragam bentuk dan hiasan disajikan dalam satu piring yang sama. Kita tinggal ambil apa yang kita suka. Di meja yang lain, sajian pencuci mulutnya lebih sehat. Buah-buahan segar dan bergelas-gelas air putih.

Aku hanya –eeeh, hanya– mengambil dua gelas puding cokelat alih-alih mengambilkannya untuk adikku. Mama mengambil gelas puding karamel. Aku pikir aku sudah cukup makan saat itu sebelum aku, melihat stand Baskin’ Robbins!

Aku sering melihat Baskin’ Robbins, bertengger di tempat yang sama selama dua tahun ini. Di lantai UG Tamini Square di samping pos informasi, di bawah tangga. Berdirilah dua karyawan yang menanti datangnya pelanggan yang akan membeli es krim yang kurasa memiliki rasa yang luar biasa. Seringkali keinginanku menyantap Baskin’ Robbins terhambat karena faktor harga. Aku terlonjak ketika dengan sembunyi-sembunyi aku melirik ke papan harga yang digantung di belakang stand. Harga secangkir kecil es krim mencapai hampir tiga puluh ribu rupiah.

Pandanganku langsung kualihkan ke arah lain dan berpura-pura tidak pernah melihatnya.

Teman sekolahku –sekarang aku kuliah, hitunganku bukan lagi sebagai anak sekolah yang memakai seragam dan terikat peraturan dan penjaga sekolah bermulut bocor– sangat tergila-gila dengan es krim. Baskin’ Robbins dan Haagen Dazs adalah dua produk es krim yang paling dia suka. Aku ingat satu hari dia berkata padaku, “Pulang nanti, gue minta Ayah beliin Baskin’ Robbins satu bucket!” -_-

Oke, aku sangat menolak jika dikatakan kesempatanku satu ini disebut aji mumpung. Faktanya, ini ‘kebetulan’. Di saat aku mengkhayalkan rasa es krim mahal dalam hati dan pikiranku, Tuhan mengabulkan doa-doa dan rasa penasaranku dengan cara terindah yang bisa Dia lakukan. Segera saja aku mengantre di barisan antrian panjang (aku sudah menduganya) dan memesan dua cup es krim. Satu untukku, satu untuk Mama. Kali ini, satu cup itu betul-betul untuk Mama. Tapi beliau tidak sanggup menghabiskannya, jadi, daripada sayang dibuang, aku yang menghabiskan sisanya.

Adikku, seperti biasa, berburu makanan lain di pesta itu. Biasanya, kalau sepupuku ikut, mereka akan jadi ‘teman seperburuan’ yang baik. Berkeliling ruangan untuk mencari dan mencicipi dan menyantap makanan enak. Berapa piring pun tidak masalah, asal dilakukan berdua.

Kali ini, karena partner-nya hanya aku dan Mama, dia hanya bisa mengajak Mama berkeliling menemani dia. Mereka berhasil mendapat dua piring spaghetti–well, satu piring untukku. Adikku melanjutkannya dengan berburu pempek, yang diakuinya sangat pedas. Dia makan tidak tenang, cenderung kurang menikmati karena dia sibuk mendesah kepedasan. Rasa kuahnya lebih pedas daripada yang dia makan. Dia tidak pikir panjang ketika menyiraminya di atas pempek, dia pikir rasa kuahnya tidak akan seberapa. Setelah selesai, dia meletakkan piring pempeknya dan langsung buru-buru mengambil air putih. Untung letaknya berdekatan dengan stand pempek, jadi dia langsung mengambil dan minum sampai habis. Kurang, dia ambil lagi dan langsung menghabiskannya.

***

Cukup dengan makanan, aku tidak mau kalian menyangka aku sebagai tukang makan dan membayangkan bentuk tubuh bulat, pipi tembam, bibir penuh, yang di dalam otaknya beterbangan piring-piring berisi makanan untuk memuaskan nafsunya, seperti stereotip orang kebanyakan.

Tenang saja, aku kurus –agak kurus– dengan betis besar. Hanya itu.

Nah, berlanjut ke grup musik yang memeriahkan pesta pernikahan itu. Grup musik ini memiliki vokalis dengan kualitas suara yang luar biasa. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan, tapi lebih bagus daripada grup musik di gedung pernikahan di Rawamangun tadi siang. Saat kami melangkah ke pelaminan, aku bisa melihat vokalisnya dengan jelas. Cantik, berambut pendek yang diluruskan, memakai baju berwarna hitam ketat selutut (atau mungkin lebih pendek) tanpa lengan, dandanan tebal, dan bertubuh pendek dengan bahasa tubuh yang bagus. Sayangnya, orang ini sering salah lirik yang membuat penampilannya terlihat berantakan dari atas sampai bawah.

Jika nadanya kurang penyesuaian dengan suaranya, itu sudah hal biasa, masih bisa diampuni. Tapi bagaimana jika yang kau dengar adalah dia mengubah keseluruhan liriknya? Itulah yang terjadi pada vokalis ini, dan sampai di indera pendengaranku. Di tengah-tengah ruangan yang ramai, meskipun tidak terlalu sesak, suara itu merambat ke seluruh dinding, lantai, dan gorden sehingga membuat rambut telinga kami bergetar dan menyampaikan pesan suara itu ke gendang telinga.

Aku mungkin terhitung suka salah dengar, tapi untuk memahami lirik lagu yang lumrah, aku tergolong cepat memahami dan menyerap lirik yang kudengar. Kusesuaikan dengan hapalan lirik yang ada di kepalaku, jauh dari hapalan sama sekali! Vokalis yang diiringi kibordis yang kutaksir berusia jauh lebih tua darinya, menyanyikan lagu Someone Like You by Adele. Telingaku menerjemahkan bahwa dia menyanyikan lirik sudah terlalu jauh, jauh dari lirik aslinya. Bahkan bagian reff -nya, yang naik turun nadanya paling aku hapal, tidak terdengar sesuai sama sekali.

Di pesta pernikahan ‘surga makanan’ ini, grup musiknya jauh lebih bagus (mungkin waspada juga karena banyak orang-orang kenegaraan datang sebagai tamu undangan). Meskipun namanya kurang menjual karena mengingatkanku akan satu hal, HOBO Entertainment, antara vokal dengan musiknya tidak bertabrakan atau tidak terdengar tidak sesuai sama sekali.

Alunan musiknya teratur, terdengar santai, lagu-lagu pilihannya juga bagus. Walaupun aku lupa lagu-lagu apa saja yang dimainkan malam itu (maaf, ingatanku bertahan tidak lama di dalam otak), aku ingat ada pilihan satu lagu mellow yang terasa salah untuk dimainkan di pesta semegah itu.

Ngomong-ngomong,ada apa dengan HOBO?

Yaah, keluarga kedua tercintaku berkumpul di kelas pada suatu hari ketika kami sedang sibuk membicarakan pelajaran, di tengah-tengah pembahasan, kalau tidak salah Mr. Chris bertanya tentang keadaan ekonomi Indonesia. Dengan gamblang, kami mengakui bahwa keadaan ekonomi di Indonesia buruk karena terjangkit banyak penyakit “ber-tikus”. Kemudian, beliau membandingkannya dengan keadaan ekonomi di negaranya.

Meskipun terlihat kaya, banyak juga warga Inggris yang homeless alias tidak punya rumah, tunawisma. Lalu Rieno, adik kami yang kurang kecil dibandingkan Atnas, nyeletuk dengan satu kata yang awalnya hanya dia yang tahu artinya, “Itu sebutannya juga Hobo, kan?” Kira-kira, begitulah kalau diterjemahkan.

“Apa itu hobo?” tanya kami nyaris bersamaan.

Hobo itu kayak semacam gelandangan lah, orang miskin tapi lebih miskin lagi,” jawab Rieno.

Sejak saat itu, entah kenapa ketika kami saling melontarkan lelucon seperti biasa, yang selalu ampuh menghangatkan dan menyenangkan hati seluruh isi kelas, setiap kali kami mendengar kata hobo, kami pasti tertawa karena ingat arti kata yang diberikan oleh Rieno itu.

Yaah, walaupun artinya ‘gelandangan’, Hobo Ent. dipanggil khusus untuk menghibur kalangan kelas atas dengan suara merdu dan permainan cerdas musik mereka. Berbanding terbalik sekali dengan arti hobo yang kutahu. Mungkin, hobo memiliki arti kata lain, tapi aku lebih suka mengingatnya sebagai ‘gelandangan’ karena kata itu mengingatkanku akan keluarga keduaku, yang memiliki arti lebih luas dibandingkan “keluarga yang tertawa karena hobo“.

***

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s