How We Feel About You (2)

Spontanitasnya terkadang–tidak, lebih sering–mengejutkan kami bahkan di saat-saat kami merasa semuanya baik-baik saja, tidak ada yang berubah sedikit pun. Sampai dia muncul di ruang kelas dengan penampilan barunya. Ketika sedang asyik menulis di buku tulisku, aku mendongakkan kepalaku saat mendengar bunyi pintu kelas yang terbuka. Sosok itu memiliki wajah yang sangat kukenal, bajunya juga jenis baju yang biasa dia pakai. Tapi…. rambutnya….

Where’s your dreadlocks?” tanyaku, spontan langsung menutup bukuku. Aku memandanginya lekat-lekat, senyum mengembang di wajahku. Keisenganku mulai tumbuh, iseng ingin bertanya ini itu padanya. Aku membetulkan posisi dudukku dan menatapnya lagi. Dia hanya tersenyum dan kupikir dia hanya ingin membuatku terlihat bodoh karena dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Jadi aku memudahkannya, “You cut them?”

Mr. Chris mengangguk.

Yeah, you look… well, different. Nice. You look very neat. What happened to you? Why did you cut them?” Aku melontarkan serangkaian pertanyaan dalam beberapa detik saja. Ketakjuban dan keterkejutanku membuahkan rasa kagum yang begitu besar pada sosok baru yang kulihat di hadapanku ini. Dia terlihat sangat rapi dan wow, rapi sekali.

Well, aku hanya ingin memotongnya, itu saja,” akhirnya dia menjawab. “Selama sepuluh tahun aku menumbuhkan rambut gimbalku dan mulai agak terasa gatal jadi, ya, aku potong saja sekalian. How do I look?”

Great!” jawabku tanpa pikir panjang. And he looked really great that day.

Senyum yang paling kusukai mengembang penuh di wajahnya, lalu dia tertawa kecil. Kemudian dia kembali disibukkan dengan layar komputernya, seperti biasa dia sibuk mencari video untuk ditonton selama jam kosong nanti. Atau dia akan menyiapkan serangkaian permainan, yang meskipun telah kami mainkan berulang kali tetap tidak terasa membosankan, untuk kami mainkan di sela-sela pembelajaran. Karena dia mudah sekali teralihkan, aku rasa permainan-permainan itu dia ciptakan atau dia sengaja mainkan agar dia tidak merasa bersalah menjadi satu-satunya orang yang tidak gokus di kelas.

Setiap pertemuan, dia pasti akan bertanya tentang hari yang kami lalui dengan payah di sekolah atau di kampus, bagaimana kami menghabiskan akhir pekan kami, apakah itu menyenangkan atau malah membosankan –dan apakah dia peduli, yang jelas sih dia rutin menanyakan hal ini. Terkadang, sebelum pelajaran resmi dimulai, kami akan memainkan sedikit permainan seperti mime, draw, or explain, atau kami diharuskan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang digulung di kertas-kertas yang akan dibagikan kepada kami secara acak. Seringkali, pertanyaan itu bersifat menghibur, semacam ice-breaker di saat tingkat stress kami sedang tinggi-tingginya.

Permainan pertanyaan pada pertemuan terakhir terjadi minggu lalu, bedanya kali ini kami menuliskan sendiri pertanyaan-pertanyaan itu lalu dimasukkan ke dalam gelas plastik. Nanti, masing-masing dari kami mengambil satu pertanyaan secara acak. Siapapun yang mendapat kertas berisi pertanyaan itu harus dijawab, kalau bisa sih dijawab jujur. Soalnya, kadang-kadang jawaban-jawaban itu bisa berakhir mengenaskan, lucu. Aku menuliskan pertanyaan seperti ini, “Why don’t vampires drink fruit juice?”

Aku berharap, ada yang menjawab pertanyaanku ini. Aku harap, jawaban dari pertanyaan ini tidak sesuai dengan apa yang kupikirkan, tidak dijawab dengan jawaban biasa seperti, “Yaa, karena mereka ingin hidup lebih lama.” Semakin aneh jawabannya, semakin mengalirlah tawa seisi kelas.

Saat giliranku mengambil kertas gulungan itu, mataku terpaku pada satu gulungan mencurigakan yang tampak seperti gulunganku. Lebih tidak rapi dan lebih lebar dibandingkan gulungan yang lain. Aku berusaha mengenyahkan pikiran bahwa itu kertasku, bisa saja itu kertas orang lain. Aku tahu seseorang di kelas ini yang tidak bisa membaca tulisannya sendiri, asumsiku itu adalah kertas milik orang yang tidak rapi itu.

Ternyata…

“Boleh aku tukar kertasnya? Ini pertanyaanku sendiri.” Teman-temanku cekikikan, Mr. Chris hanya menggeleng sambil nyengir. “Tidak, kau harus jawab pertanyaan itu.”

Mulutku langsung sibuk mencerocos tentang aku tidak ingin menjawab pertanyaanku sendiri, aku ingin orang lain menjawab pertanyaan ini, mengapa aku harus mendapatkan pertanyaanku sendiri.

Yaah, hal-hal sederhana seperti inilah yang mencerahkan suasana kelas kami. Penerangan yang baik, koneksi internet yang luar biasa (yang memungkinkan buffering Youtube lebih cepat dari koneeksi internet yang kudapat di rumah), papan tulis putih yang bersih, kursi-kursi nyaman dengan meja-meja yang bisa bergeser sendiri, guru yang luar biasa aneh dan kreatif, enam teman yang mengagumkan, dan permainan-permainan yang luar biasa. Tidak ada rasa malu atau gugup atau canggung yang diperbolehkan masuk ke tempat ini. Hanya kepercayaan diri yang tinggi plus urat malu yang dipastikan harus sudah putus terlebih dahulu yang hanya boleh masuk. Salah bicara selalu berujung pada tawa yang kurasa bisa didengar hingga ke luar kelas. Kelas kami bisa dipastikan kelas yang paling ribut dibandingkan yang lain, tapi yaaa kami memang terlihat lebih ceria. Suara teriakan dan tawa kami lebih menggelegar dan tingkah laku kami bisa dipastikan aneh sendiri.

Ya, that’s what makes it our own home.

***

Dia menanyakan apakah kami punya blog karena dia ingin membacanya. Hitung-hitung sekalian belajar bahasa Indonesia, memperkaya kosakatanya, sama seperti yang kami lakukan dengan membaca artikel dari situs luar negeri untuk memperkaya kosakata, pengucapan, dan memperkuat hapalan kami. Baru Atnas dan aku yang ada di kelas itu, jadi kami memberikan alamat blog kami padanya. Blog Atnas terlihat lebih ceria dibandingkan punyaku. Latar belakangnya berwarna ungu dengan gambar kamera memenuhi setengah layar di halaman depannya. Dia bilang, dia memang suka fotografi makanya dia sertakan gambar kamera disana.

Sementara blog-ku lebih sederhana, pembelaanku karena aku masih pemula jadi blogku terlihat lebih membosankan dibandingkan miliknya. Walaupun ada sedikit rasa iri karena blog Atnas lebih bagus, aku ingin mendandani blog-ku sedikit ketika aku sudah lebih mahir. Aku tidak menggunakan nama asliku di blog ini. Aku lebih suka menggunakan nama pena. Dia tidak akan menyadari bahwa aku memakai nama lain untuk blog-ku. Ayuri, lebih pendek Yuri. Nama depanku memang terdiri dari lima huruf ini, jadi aku tidak sepenuhnya berbohong.

Blog-ku terdiri dari hanya tulisan-tulisan, nyaris tanpa gambar. Aku berencana untuk menambahkan foto-foto yang kuambil sendiri, tanpa mengandalkan gambar-gambar dari Google agar terlihat lebih asli dan artistik. Kalau saja aku bisa mengoperasikan photoshop dengan baik, dengan memperhatikan dengan serius apa yang guru komputer SMA-ku ajarkan, aku bisa membuat fotoku terlihat luar biasa. Sayangnya, aku tidak bisa.

Saat Kak Dhama masuk ke kelas, Mr. Chris sedang berada di tengah-tengah ceritanya tentang kesukaannya menggeluti dunia fotografi. Segera saja Kak Dhama bergabung dengannya dan mengatakan, “Aku juga suka fotografi. Aku bekerja untuk satu event organizer dan sering mengambil foto di tempat-tempat terkenal. Baru-baru ini aku memotret untuk acara modelling…” Aku tahu acara modelling ini besar, tapi sekali lagi aku lupa acara apa yang dia hadiri saat itu sehingga membuatku takjub dan tidak percaya bahwa aku belum melakukan apapun seumur hidupku. Hanya dalam beberapa detik, Kak Dhama dan Mr. Chris asyik ngobrol berdua, meninggalkan aku dan Atnas cengar-cengir sendirian sambil menatap satu sama lain.

Aku memberitahu seisi kelas bahwa aku berkeinginan menjadi pengisi suara untuk kartun, tujuan utamaku adalah menjadi pengisi suara untuk kartun-kartun Walt Disney. Dengan semangat aku menceritakan impianku ini pada Kak Dhama. Aku ingat ekspresi wajahnya yang terlihat berbunga-bunga bak mendengarkan ocehan anak kecil, senyum terkembang di kulit wajahnya yang putih bersemu merah. Ketika Mr. Chris mendatangi meja kami, dia bilang pada Mr. Chris (sesuau yang benar-benar membuatku sangat bersemangat dan membulatkan tekad saat itu juga), “Sir, dia tahu apa yang dia mau. Dia punya dasar-dasarnya. Dia bisa melakukannya!” Oh, Tuhaaan!”.

***

Berbulan-bulan setelahnya, aku mulai melihat kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh setiap temanku, yang semakin membuatku merasa ciut dan kecil. Ternyata, aku tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Kemampuan berbahasa Inggrisku memang cukup baik, tapi itu semua tidak cukup tanpa keterampilan tambahan lainnya. Awal tahun ini, aku sibuk mempelajari gitar. Berusaha menguasainya sebaik mungkin agar aku bisa memainkannya suatu saat di sebuah panggung besar. Tetapi, hambatan lainnya adalah, aku kurang memiliki keberanian. Ketakutanku untuk tampil di atas panggung belum sembuh, aku tidak tahu kapan aku bisa memperbaiki diri.

Ada Ratna yang sudah berkali-kali tampil di panggung untuk menari. Tarian tradisional adalah kegemarannya. Ekstrakurikuler yang diikutinya di sekolah adalah Tari Saman, tapi dia bilang dia ingin menguasai tarian yang lain juga. Baru-baru ini, dia menunjukkan videonya pada kami. Dia dan kelompoknya menari di Mall Depok untuk promosi keikutsertaan untuk lomba di Vietnam. Memang bukan dia yang pergi, tapi seniornya. Ratna senang melakukannya meskipun bukan dia peserta yang akan maju nanti.

Kepercayaan dirinya membawanya ke banyak panggung, dan kuakui membuatnya sedikit lebih langsing. Rieno banyak mengikuti pertandingan karate untuk berbagai tingkat. Debat bahasa Inggris dan konferensi siswa sekolah lainnya yang menunjang kemampuan dirinya tampil di depan orang banyak. Untuk akhir bulan Juli nanti, dia akan mewakili Indonesia dengan seorang siswa lainya untuk mengikuti konferensi anak muda di Jepang. Oh My God! Rieno, kupandang sebagai seseorang yang berani mengemukakan pendapatnya. Dia tidak takut menjadi satu di antara kaum minoritas, dia seorang ateis. Mungkin itulah yang membuatnya berani maju sebagai dirinya sendiri sementara orang lain lebih memilih jalur aman. Mengunci ide-ide mereka jauh di alam bawah sadar, tertumpuk oleh ingatan-ingatan yang sudah tidak lagi berfungsi dan membiarkannya membusuk di sana tanpa pernah diaspirasikan.

Kak Dhama, selain menggeluti bidang fotografi, dia pernah mengikuti satu kompetisi yang melibatkan kemampuan berbisnis (kalau tidak salah), di California, Amerika Serikat. Setiap kali aku mengingat ini, aku merinding sendiri. Aku belum melakukan apa-apa untuk mewujudkan impianku pergi ke negeri Paman Sam. Semangatku naik turun, begitu juga nilai-nilaiku. Sementara ada seorang senior jenius berpengalaman yang pernah menginjakkan kaki ke sana dan memenangkan sebuah kompetisi. Berdiri di hadapanku, duduk di tengah-tengah kami, seakan-akan seluruh alam semesta ingin mengataiku “Kau pecundang!” dengan meletakkannya disana. Sungguh, rasa takutku akan SEGALA HAL harus dihilangkan.

Dimas memang tidak begitu menonjol. Tapi dia bisa membuat mimik muka yang sangat bagus dalam permainan mime, draw, or explain. Aku hanya belum menemukan kelebihannya. Sekali aku tahu, aku pasti akan menuliskannya disini juga. Aku menyukainya, dia plain yoghurt kami. Rasanya tawar, tapi enak dan bergizi. Seperti itulah dia. Ekspresi wajahnya mungkin datar, selalu datar. Tetapi, dia bisa melontarkan kelucuan dan mengejutkan seisi kelas.

Sementara Atnas, dia anak muda cerdas, kurasa, dengan IQ yang tinggi pula. Bayangkan, di usianya yang baru 15 tahun, dia sudah akan menginjakkan kaki di universitas. Dia akan segera kuliah! Selama bersekolah, dia selalu masuk kelas akselerasi. Aku rasa dia SUNGGUH cerdas, SUNGGUH luar biasa. Dia dikenal –dan akan dikenang– sebagai Miss Cursing. Yaah, kau tahu apa artinya. Kami sering mengejeknya dengan mengatakan, “Masih kecil aja udah kuliah. Gue baru umur segini kuliah. Balik lagi lo ke sekolah!”

Astri memiliki ingatan yang sangat baik, tergolong ingatan jangka panjang. Dia heboh, luar biasa cerewet, menyukai banyak hal daripada membencinya, mudah terserang kantuk, mudah stress, penggila film. Dia bisa mencerocos banyak hal soal film-film yang dia tonton. Kalau aku pernah menonton film yang dia sebutkan, kami berdua bisa tenggelam dan menunjukkan ketertarikan yang sama pada film tersebut. Ternyata, kami menyukai artis yang sama. Tom Hiddleston, contohnya. Brad Pitt adalah aktor favoritnya, sementara aku tidak menyukainya.

Belakangan ini, Mr. Chris sering menggodanya dengan gambar Brad Pitt dan pai apel. Itu semua karena ulahnya sendiri, mengeluh lapar saat jam pelajaran lalu menyebutkan makanan kesukaannya. Beserta makanan yang lain. Jadilah sepanjang jam belajar –termasuk saat ujian kemarin– Mr. Chris memasang foto Brad Pitt dan pai apel berdampingan di layar komputer.

***

Setelah kami menyelesaikan ujian terakhir, kami kembali ribut dan membicarakan hal-hal yang kami lakukan di masa depan. Besok, termasuk masa depan. Aku sibuk mengutuk diri sendiri karena aku kurang belajar untuk ujian yang satu ini. Sementara yang lian-, tenang-tenang saja meskipun aku melirik mereka yang diam-diam menanyai jawaban pada yang lain. Aku sempat melakukannya, tapi tidak berhasil karena gerak bibirku tidak bisa dibaca dengan baik. Aku rasa Kak Dhama dapat banyak hari ini. Dimas tidak belajar, bahkan tidak bawa buku. Setidaknya, aku tahu siapa yang akan mendapat nilai jelek selain aku.

Dalam menit-menit terakhir, Astri (kembali) mengeluh lapar. Lalu, dia, Atnas, Ratna, dan Rieno membicarakan restoran yang menyajikan makanan pencuci mulut terenak. Aku tidak yakin aku mengingat nama-namanya, selain nama makanan yang kutangkap dari Rieno dan aku tahu jenis makanan tersebut. Macaroons.

“Pokoknya, nanti gue mau ke Bogor buat beli pai apel!” celetuk Astri sambil merebahkan kepalanya di atas meja.

Aku, yang duduk di sampingnya menyahut, “Apa tidak terlalu jauh, ke Bogor cuma buat pai apel?” Kak Dhama tertawa, yang lainnya cengengesan. Kami kembali tenggelam lagi dalam nama-nama makanan yang lain.

Di momen itulah aku sadar, mungkin ini pertemuan kami yang terakhir.

***

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s