How We Feel About You (3)

Kata-kata perpisahan terlontar dari Mr. Chris. Dia mengucapkan terima kasih atas waktu yang telah kami sediakan untuk datang ke tempat kursus ini. Terima kasih karena kami telah menjadi murid-murid yang luar biasa dan mengagumkan, aku akan merindukan kalian semua, sebelum kami melangkah ke luar kelas. Biasanya, kami akan menyalami tangannya dan mengucapkan, “Terima kasih untuk hari ini! Selamat berakhir pekan!” Tapi tidak. Mr. Chris melangkah ke luar terlebih dahulu diikuti kami di belakangnya.

Seperti biasa, sebelum pulang, Kak Dhama akan berhenti di depan konter samping ruang guru, di atasnya terdapat dispenser dan jejeran gelas-gelas plastik. Dia akan minum segelas air sebelum pulang. Tidak ada lagi dari kami yang memiliki kebiasaan rutin seperti itu kecuali kami benar-benar haus dan lupa bawa minum. Dimas keluar tempat kursus duluan, dia sendirian, seperti biasa.

Sementara kami: aku, Ratna, Atnas, Rieno, dan Astri, berencana untuk menghabiskan waktu setengah jam sebelum pulang untuk makan di McDonald’s, satu dari beragam restoran yang adik-adikku sebut selama di kelas tadi. Tentu kami tidak berjalan dalam kesunyian, selalu ada hal untuk dibicarakan di dalam ruangan mall yang dingin sementara di luar langit gelap berhiaskan bintang-bintang dan mobil-mobil yang parkir di sepanjang jalan di bawah landasan parkir.

Di balik jajaran toko yang mulai tutup, pintu besinya turun menutupi seluruh isi toko, seluruh lorong di depan tempat kursus kami terasa lengang meskipun waktu baru menunjukkan pukul delapan malam. Terlalu dini untuk menjadi sunyi. Langkah kaki kami terdengar sangat jelas karena kosongnya udara malam itu. Beberapa langkah dari jejeran toko yang sepi itu, kami melewati jejeran toko yang lebih ramai, Baskin’ Robbins masih buka, eskalator sibuk membawa pengunjung naik turun dari lantai ke lantai. Karyawan toko-toko baju yang sudah tidak tampak bersemangat lagi mencari kesibukan dengan mengobrol bersama karyawan toko lainnya, lalu berjalan kaki sedikit untuk membalas sapaan, menghampiri si penyapa, kemudian berhenti, dan duduk disana.

Sambil memperhatikan jalan dan tangga yang akan kami turuni, kami terus mengobrol dengan orang di samping kami. Mengenai hal-hal yang mengganggu mereka selama seminggu ini, pencapaian apa yang telah mereka raih, dan hal-hal menyenangkan apa yang telah mereka lakukan yang mampu mengubah mood mereka seharian penuh. Rieno mengeluhkan sesuatu yang membuatnya bete selama beberapa hari ini, aku pikir itu salahku karena terlalu bersemangat saat bermain game dan pamer padanya ketika aku berhasil memenangkan game itu di kelas.

Karena kupikir aku akan makan di rumah saja, aku teringat ayam goreng yang dimasak oleh kakakku khusus untukku karena aku tidak makan makanan lain selain itu untuk hari ini, aku hanya memesan McFlurry Choco. Atnas dan Astri memesan burger dan kentang goreng, aku tidak begitu ingat apa yang dipesan Ratna. Burger dengan coke kah? Entahlah. Yang jelas, kami saling berbagi makanan setelahnya. Aku mengambil beberapa kentang goreng dari Atnas dan Astri kemudian mencelupkannya ke es krimku. Ratna dan Rieno tampak tidak terbiasa dengan cara makan seperti ini. “Memang enak digituin?” tanya Ratna sambil menatapku yang sedang mengunyah kentah goreng.

“Adek gue yang ajarin ini. Cobain deh, enak kok. Yaaah paling sensasi manis-asin-dingin aja, sih.” Tidak lama kemudian, tangan-tangan kami sibuk mencelupkan kentang goreng ke es krimku dan Rieno. Ratna dan Rieno langsung terbiasa dengan cara makan kentang goreng yang unik ini. Entah apa mereka belum pernah mencobanya. Seingatku, aku sering menemukan cara makan kentang seperti itu di beragam restoran yang menghidangkan kentang goreng. Awalnya, kupikir itu juga aneh ketika adikku memeragakannya pertama kali. Kemudian, aku ikut-ikutan mencelupkan kentangku ke es krim yang kupesan di A&W. Setelah beradaptasi dengan hal unik tersebut, Tuhan menunjukkan padaku bahwa bukan hanya aku dan adikku saja yang makan kentang goreng dengan cara demikian. Semakin banyak orang yang makan di restoran cepat saji yang memesan kentang goreng dan es krim, mecelupkan kentang mereka di atas es krim. Bola mata akan bergerak-gerak lincah memandangi langit-langit sambil menikmati sensasi makanan berminyak dingin itu di dalam mulut mereka.

Di atas meja, kami membicarakan hal-hal baru seperti jenis musik keras yang baru-baru ini dinikmati oleh Ratna. Dengan semangat, Rieno yang merupakan penggemar garis keras musik-musik heavy metal memperdengarkan lagu-lagu yang disimpan di ponselnya kepada Ratna. Tidak lama kemudian, mereka berdua asyik tenggelam dalam alunan musik yang liriknya tidak pernah bisa kumengerti itu.

Aku pikir semua lagu metal itu sama saja. Ternyata, ada bedanya juga. Antara heavy metal dan death metal pun terdapat perbedaan pada isi lirik lagunya. Penggambarannya berbeda-beda. Sekali lagi, aku tidak begitu ingat perbedaannya. Jika aku sudah ingat lagi, aku akan menuliskan di post berikutnya.

“Kita kasih apa nih buat Mr. Chris?” tanya Ratna tiba-tiba. Pertanyaan itu sudah diajukannya setelah kita meninggalkan tempat kursus. Ya, pertanyaan itu terlontar lagi sekarang, dan membuatku terhenyak untuk beberapa saat. Aku bilang pada mereka bahwa aku punya ide orisinil untuk kado itu, tetapi ternyata aku salah. Ideku adalah membelikan Good Time cookies dalam kemasan cup –yang menyerupai cup mie instan, itu kemasan terbaru– dan membagi-bagikannya kepada seluruh kelas, termasuk Mr. Chris. Ide itu sudah tidak berlaku lagi  mengingat bahwa makanan jenis itu akan cepat habis dalam hitungan kurang dari lima menit. Tidak spesial, tidak bisa disimpan selamanya untuk dikenang oleh Mr. Chris hingga dia menangis. (Yaaah, kalau menangis melihat isi cup itu kosong, sih hal lain lagi ya)

Akhirnya, kami pun pulang dengan mengambil jalan yang terpisah. Aku berjalan ke luar bersama Atnas. Dia tidak tahu di mana ibunya berada, juga tidak tahu di mana mobil sang ibu diparkirkan. Aku hanya tertawa saja sebelum berjalan menuju jalan raya untuk menghentikan angkot untuk pulang. “See you in the next day!” janjiku sambil melambai ke arah Atnas.

***

Untuk mengisi waktu di hari liburku yang terlalu panjang ini (tiga bulan cukup untuk memulihkan diriku yang badan dan emosinya habis terkuras sia-sia), aku membantu pekerjaan kakakku menyapu dan mengepel lantai rumah, membersihkan seluruh meja, dan kalau sempat menyikat kamar mandi hanya di lantai dua. Intinya, kami berbagi tugas. Kemarin siang, ketika aku sedang sibuk menyapu, pikiranku langsung melayang ke hari-hari yang telah kuhabiskan di tempat yang kusukai. Selain tempat kursus bahasa Inggris itu, aku juga mengikuti kursus gitar. Aku seorang pemula, yang benar-benar harus mulai dari nol, aku percaya kalau aku tidak bisa belajar tanpa pembimbing yang baik. Karena aku pasti punya banyak pertanyaan untuk dilontarkan, rasa keingintahuanku besar untuk sesuatu hal baru yang mulai kusukai. Tidak cukup hanya dengan membaca saja, praktik lebih memperkaya dalam mempelajari suatu alat musik.

Aku sedang sibuk menyapu kamarku dengan diiringi musik. Tanpa musik, bisa dipastikan aku tidak bisa membersihkan rumah dengan hati, hanya dihiasi peluh, keluhan, dan rasa lelah yang semakin menjadi. Pikiranku masih melayang di tempat-tempat itu, aku juga merenungkan kata-kata yang mungkin sudah kulontarkan pada orang-orang yang telah ‘membunuh karakterku’, yang tidak bisa kuterima sampai hari ini. Tapi aku ingat satu kalimat yang menyatakan, “Jika kau masih belum bisa memaafkan, selamanya kau terkunci dalam masa itu.” Ya, benar. Aku terkunci, sangat rapat, meskipun sudah berusaha memaafkan. Aku tidak bisa lepas. Tidak sedikit pun rasa sakit hati yang kurasakan tanpa mengingat hal-hal tidak mengenakkan yang pernah terjadi dalam hidupku, yang terjadi dua kali selama masa sekolah dasar dan sekolah menengah atasku, yang kata orang masa SMA adalah masa yang paling patut dikenang.

Aku mempunyai dua masa indah yang terlewatkan, membekas dalam ingatanku dengan cara tidak enak. Membekas seperti luka cakaran yang dalam dan terus mengeluarkan luka setiap kali aku menggaruknya. Masa-masa itu terlupakan dengan mudah, tetapi juga teringat dengan mudah. Rasa sakit akan tumbuh lagi, dan seperti itulah aku menghabiskan hidupku selama sebelas tahun sejak aku digencet oleh teman-temanku. Teman-teman? Yaah, aku ragu dengan kata teman-teman. Apakah mereka temanku? Tidak, mereka orang-orang yang terlupakan, dengan tindakan yang sebenarnya tidak termaafkan.

Sudah cukup, aku tidak mau mengingat orang-orang brengsek itu lagi. Maaf, aku menjadi kasar.

Ketika aku melanjutkan menyapu, aku menatap ke lemari bukuku yang, selain dipenuhi buku-buku di bagian dalam, penuh tempelan jadwal tugas yang harus kuselesaikan, doa sujud syukur, dan sebuah piagam yang menandai tuntasnya masa belajarku di tingkat sebelumnya dan berhasil naik ke tingkat selanjutnya. Di piagam itu tertulis tanggal mulai dan berakhirnya kursusku, 18 Desember 2012 sampai 21 Februari 2013. Hanya ucapan congratulations dan tingkatan kursusku selanjutnya, juga tanda tangan guru favoritku. Awalnya, kusangka itu tanda tangan Mr. Rhys. Seingatku, aku memulai kursusku pada bulan Desember.

Setelah aku melihat nama yang tertera di bawah tanda tangan itu, aku tersenyum dan tertawa kecil karena saat itu juga, aku membayangkan wajahnya dan semua perlakuan baiknya pada kami. Aku ingat party class yang kami adakan di sebuah restoran seafood dengan Tamini Square, tempat itu baru diresmikan beberapa bulan. Dia merekomendasikan restoran itu pada kami dan kami pun ditraktirnya makan disana. Kami berfoto, menyangka itu adalah saat terakhir masa mengajarnya untuk kami. Ternyata, kami terus bersamanya sampai bulan Juni.

Sepulang dari restoran itu, aku pulang bersamanya. Selain jadi guru dan teman kami, dia juga berperan sebagai tetanggaku. Walaupun kami tinggal berdekaatan, aku tidak pernah main ke rumahnya kecuali sekali saat kami mengadakan pesta di rumah kontrakan yang dia tinggali bersama teman-temannya. Dia memasakkan kami makan malam, semangkuk chilli berisi nasi dengan porsi semangkuk penuh, ditambah sayur-sayuran dan jamur (aku tidak suka jamur!), dan rasa pedas yang menyengat mulut. Sudah beberapa tahun ini dia jadi vegetarian, bahkan sebelum tinggal di Indonesia.

Kami naik angkot, sementara teman-teman yang lain ada yang dijemput orang tuanya dan pulang sendiri naik motor. Aku ingat malam itu cukup dingin, kukira bakal hujan. Tapi tidak. Langot kosong melompong, bintang-bintang malu-malu mengeluarkan sinarnya, tapi tidak ada yang bersembunyi di balik sinar bulan yang berbentuk setengah lingkaran. Lama-lama, rasa dingin semakin menusuk sampai aku memasukkan tangan ke saku celanaku. Biasanya aku memakai jaket, tapi dingin ini tidak kuantisipasi sama sekali.

Sepanjang perjalanan pulang, kami mengobrol ringan. Di saat itulah aku mengutarakan padanya apa yang selama ini aku rasakan selama belajar di kelasnya, bersamanya dan teman-teman yang lain di tempat sempit yang kami sebut kelas mewah itu. Dia juga bilang, dia sadar bahwa orang-orang yang belajar di tempat kursus itu adalah orang-orang yang bersekolah, kuliah, atau bahkan sudah kerja. Dia tidak mau menjadikan waktu belajar menjadi melelahkan dan membosankan, dia ingin membuat kelas itu menjadi kelas yang sangat menyenangkan dan jadi tempat yang dituju untuk bisa bermain sambil belajar. Dia ingin murid-muridnya merasa enjoy saat belajar.

Dia tahu, tidak kalau dia sudah berhasil melakukannya?

Aku juga bilang, aku tidak pernah merasa capek belajar di kelasnya. Justru, hari-hari kursus adalah hari yang kutunggu-tunggu. Dari tujuh hari yang disediakan dunia, hanya dua hari luar biasa yang selalu menjadi pelepas penat dan penghiburanku, secapek apapun kuliahku pada dua hari itu. Aku selalu senang, tidak pernah merasa bosan, capek, atau apapun, karena aku bertemu orang-orang luar biasa yang saling melengkapi.

Kurasa, pada sesi curhat singkat itu, kami sama-sama terkejut. Ketika aku melontarkan pernyataan terakhir itu, dia menatapku dalam-dalam dan tersenyum lebar. Dia tidak percaya apa yang baru saja kukatakan. Aku pun tidak percaya ternyata dia merasakan hal yang sama. Dia terus memuji-muji kami semua dengan mengatakan kami adalah murid-murid paling luar biasa, menyenangkan, dan cerdas. Tentu saja pujian-pujian ini membuatku melayang. Aku tidak sabar memberitahu teman-teman yang lain!

Rasa dingin semakin menjalari tubuhku, tetapi bukan karena cuaca hari itu. Jantungku berdegup sedikit lebih cepat sehingga rasa merinding menguasai seluruh tubuhku. Otakku menyensasikan perasaan senang sehingga aku bahkan bisa merasakan rambutku tumbuh. Aku yakin penumpang lain di angkutan yang kami naiki menatap kami berdua saat mengobrol, aku bisa merasakannya sebab rambut belakangku berdiri.

Saat kami akan turun, dia membuka dompetnya di depanku. Astaga! Aku kaget setengah mati. Di dalam dompet itu, tersisa hanya beberapa lembar uang receh. Aku nyaris tidak melihat uang di dalamnya karena cahaya remang-remang lampu angkutan. Mulutku ternganga sedikit, tapi aku tidak menunjukkan keterkejutanku padanya. Di saat isi dompetnya menipis, dia…. mentraktir kami? Aku menduga dia membawa uang pas-pasan. Astaga, astaga….

Aku baru mau membuka mulut untuk bicara, menanyakan mengapa ia tidak membawa uang lagi. Tapi, aku tidak menanyakannya. Dia sengaja menyuguhkan kesenangan pada kami, aku tidak mau merusaknya. Semakin tidak enak perasaanku ketika dia membayari ongkosku juga!

Sementara yang bisa kuberikan, hanyalah ucapan terima kasih yang jelas-jelas tidak cukup untuk membayar semuanya. Dia sudah terlalu baik, sudah sangat terlalu baik. Berkali-kali aku mengucapkan terima kasih padanya, tapi hatiku merasa tidak puas, itu tidak cukup, itu semua tidak terbayarkan. Dia ini orang asing, dia guru kami. Katakanlah, seakan-akan dia baru mengenal kami. Tapi, dia memperlakukan kami layaknya teman lama. Dan teman-teman lamanya ternganga atas apa yang telah dilakukannya pada kami.

Kesadaranku kembali lagi ke tubuhku yang berdiri di kamar, nyaris terpaku sepenuhnya dengan gagang sapu di tangan. Aku tersenyum lalu berbisik, “Christopher.”

***

Hari Selasa besok kami akan bertemu lagi, berkumpul bersama Mr. Chris untuk merayakan party class yang aku rasa akan menjadi party class terakhir bersamanya. Sejak kami harus memilih antara dua jalur kursus yang lain, kami tidak bisa meramalkan secara tepat siapa yang akan menjadi guru kami. Apakah orang itu akan semenyenangkan, seterbuka, seasyik, semenawan, semenakjubkan, dan yang terpenting, sebaik dan sekreatif Mr. Chris? Kalaupun ada, pasti tidak akan sama persis menyerupai dia. Dia mungkin juga bertanya-tanya, akan seperti apa murid-murid barunya? Apakah dia akan seperti kami, yang meninggalkan kesan baik terhadapnya?

Apakah kami akan menemukan guru yang rasa percaya dirinya kelewat tinggi dan suka pamer kelebihan dirinya untuk menghibur kami semua? Baru-baru ini dia mengumumkan pada kami bahwa dia baru saja dimintai pihak kantor pusat untuk berfoto untuk promosi tahun ajaran baru di situs resmi mereka. Untuk menyenangkan hatinya –dengan tulus, tentunya– kami mendesah kesenangan dan memujinya dan pura-pura tidak percaya. Aku percaya, karena dia memang seseorang yang pantas dipromosikan kepada dunia. Seluruh dunia belum melihatnya, kami sudah melihatnya dan dialah dunia kami.

Sebentar lagi, hidup kami akan disirami warna yang berbeda. Kami tidak tahu apakah kami akan sekelas lagi, apakah pilihan kami akan sama untuk kursus selanjutnya. Yang terpenting bagiku, apakah emosiku akan sestabil ketika aku belajar di kelas Mr. Chris. Sejauh ini, aku meneliti diriku sendiri dan aku akhirnya menemukan bahwa rasa senangku ditimbulkan karena efek dari proses pembelajaran di kelas itu. Paduan antara teman-teman yang baik dan menerima keberadaanku dan guru yang tidak kaku membuat emosiku tidak membuncah keluar sembarangan, seperti yang biasanya kulakukan. Ada sesuatu di kelas itu yang mampu menahan emosiku keluar. Kekuatannya lebih besar dari emosiku sendiri, kesabarannya lebih besar dari kesabaranku sendiri, semuanya tertanam di kepala dan bagian-bagian tubuhku yang lain, termasuk organ-organ di dalamnya.

Itulah mengapa aku bisa bilang padanya kalau aku selalu merasa senang belajar di kelasnya. Apapun akan kulakukan agar bisa kesana, meskipun harus telat, tidak ada alasan untuk tidak datang. Aku selalu meluangkan waktu, hati, dan pikiranku untuk bersenang-senang dengan mereka di tengah-tengah proses belajar. Aku menemukan kecocokan disitu, menemukan diriku kembali yang telah lama hilang. Hanya disana.

Aku bahkan berencana mengabdi menjadi guru disana.

Jika kalian juga memiliki ‘keluarga kedua’ yang tidak bisa kau lepas karena suatu alasan sepertiku, kuingatkan untuk cepat-cepat mengatakan pada mereka, “Aku mencintai kalian.” Biarkan mereka tahu bahwa keberadaan mereka sangat berarti untukmu, selalu mengisi hari-harimu di sela-sela hembusan napas dan detak jantungmu. Rasanya aku ingin mengatakan mereka alasan aku menemukan cinta di setiap hari yang kujalani, karena nyaris setiap hari pula aku selalu terbayang wajah mereka.

Semarah apapun aku, aku akan berusaha mengingat saat-saat menyenangkan yang pernah kualami. Ajaibnya, sebagian besar saat-saat itu kualami di tempat kursus itu. Mereka membiarkanku bertumbuh dewasa tanpa tekanan seperti yang selalu terjadi padaku di tengah-tengah proses pendewasaanku.

Aku mungkin satu-satunya orang yang berkata begini dan menuliskan banyak hal baik tentang mereka. Tetapi, kalau bukan kebaikan mereka, mereka tidak akan berada pada lembaran post ini dan menjadi inspirasiku untuk menjalani hidup. Bahwa hidup itu sebenarnya dipenuhi cinta, hanya saja disembunyikan di tempat-tempat tersembunyi dan menunggumu menghampiri mereka, menunggumu menemukan waktu yang tepat untuk mereka.

Aku selalu menyayangi kalian, tanpa harus menjadi kekasih resmi, kalian adalah teman-teman terbaik yang pernah kumiliki! Teman-teman sekelas terbaik yang pernah kumiliki.

Sekarang, apa yang akan kami berikan pada Mr. Chris untuk hadiah perpisahan? Aku tidak tahu. Yang pasti, kami akan menemukannya sebelum party class terakhir, dan akan aku pastikan bahwa hadiah itu akan sangat berarti baginya dan menjadi pengingat baginya akan diri kami. ^^

With love,

Yuri

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s