Agamaku adalah Agamaku, Agamamu adalah Agamamu

Pengumuman SBMPTN berlangsung hari ini, entah sudah berapa jam tepatnya setelah pengumuman, aku baru mendapatkan beritanya di sore hari. Kubaca running text di salah satu stasiun televisi swasta, yang langsung membuatku merasa kalang kabut. Hanya 18, 79% (jika aku tidak salah) yang lulus SBMPTN tahun ini. Segera saja hatiku langsung tergerak untuk bertanya kepada dua teman baikku.

Si kecil Atnas, yang baru berusia 15 tahun dan hampir menapaki dunia kampus dan temanku yang sudah mencoba ujian nasional masuk perguruan tinggi dari tahun 2011 sampai 2013, Cahyo. Or, should I call him, Kak Cahyo?

Aku pikir aku telah salah mengajukan pertanyaan hari ini sehingga tidak dijawab olehnya. Aku mengirim tweet kepada Atnas, menanyakan hasilnya. Dia tidak menjawabnya, langsung beralih ke tweet-tweet teman-temannya yang lain. Untuk kali ini, aku merasa diabaikan. Baru beberapa hari lalu kami asyik berkomentar tentang Mr. Chris. Aku mengunggah foto party class terakhir kami dan foto Mr. Chris memakai batik pemberian dari kami. Teman-temanku tampak senang melihatnya, termasuk Atnas. Aku takut dia tidak sedang ingin membicarakan hasilnya tidak peduli seberapa besar rasa penasaranku tentang hal itu. Aku harap itu bukan hal buruk.

Berbeda dengan Kak Cahyo. Dari tahun ke tahun, kami saling menyemangati dalam hal ini. Ketika aku akhirnya dapat universitas negeri, dia masih tetap ‘tinggal’ di universitas swasta dan saat ini harus berpuas diri dulu dengan hasil yang diberikan oleh Allah SWT. Beliau tidak diterima–lagi, aku menyesal mengatakan ini– di Teknik Industri UI, jurusan dan universitas yang selama ini diimpikannya. Sayangnya, selama tiga tahun berturut-turut (terhitung sejak tahun 2011) Tuhan selalu memberikan jawaban yang sama padanya. Aku takut dia merasa jatuh, jadi aku menghiburnya dengan banyak mengatakan, “Tidak apa-apa, Allah SWT punya rencana lain yang pasti baik bagimu.”

Terdengar sangat klise, tentu saja, aku tahu. Namun, hanya itu ucapan bijak yang bisa kusampaikan padanya mengingat posisiku saat ini masih sebagai seorang psikolog pemula. Aku ingin menemaninya dulu saat ini sampai dia merasa lega. Entahlah. Setelah beberapa kalimat, aku malah merasa takut. Keputusasaannya benar-benar terlihat dari kata-kata yang diucapkannya.

Teman-teman satu jurusan yang  juga mencoba peruntungan mereka tahun ini dengan mengikuti SBMPTN, sebagian lolos ke universitas negeri yang lain. Jika aku jadi mereka, aku tidak akan berpikir dua kali untuk memilih pindah atau tetap di universitas ini. Baru kurasakan tahun ini bahwa aku merasa tidak betah. Mungkin karena kulihat teman-temanku lolos masuk ke universitas impian mereka meskipun beda jurusan, membuatku jadi termotivasi dan tergerak untuk pindah juga.

Seperti biasa, sebelum aku memutuskan rencanaku untuk tahun depan, aku berdiskusi dulu dengan Mama. Seperti biasa pula, beliau dengan panjang lebar menjelaskan rencana yang sudah susah payah kubuat untuk akhirnya bisa melanjutkan S2 di luar negeri. Jika aku pindah, konsekuensi meninggalkan kuliahku di universitas yang sekarang adalah aku harus menghabiskan waktu sekitar empat tahun lagi untuk menyelesaikan pendidikan.

Targetku untuk lulus di tahun 2016 jika aku masih bertahan di universitas yang sekarang, akan mundur sejauh-jauhnya di tahun 2018. Awalnya, aku sudah mempertimbangkannya, tidak ada masalah. Toh, Kak Cahyo sampai tahun ini terus berjuang yang artinya dia tidak takut menjadi ‘angkatan tua’. Teman sekelasku, Kak Sigit, juga termasuk angkatan tua karena dia angkatan 2009 sementara baru masuk kuliah tahun 2012.

Namun, karena nada suara yang menekan dan lamanya durasi beliau berbicara, isinya pun berputar-putar tapi tetap menyasar kesimpulan yang sama, ditambah lagi adikku ikut-ikutan menimpali dengan menyetujui pendapat Mama, akhirnya aku lebih memilih diam. Diam, ya aku setuju, aku akan bertahan di universitas ini. Diam, ya tidak masalah toh aku akan segera keluar dari tempat itu. Diam, ya aku ingin kalian menyudahi pembicaraan ini karena aku mulai sakit kepala.

Orang yang paling membuatku termotivasi, adalah Ambar. Dia bukan seorang lulusan SMA jurusan IPA sepertiku. Dia lulusan SMK jurusan Farmasi, lulus SBMPTN jurusan Farmasi di Universitas Andalas. Hebatnya, dia tidak mengikuti bimbingan belajar manapun seperti yang aku duga. Yang aku duga semua orang akan lakukan demi meraih impiannya, apalagi dia dari SMK, cukup sulit untuk bisa menembus universitas. Tapi, Ambar menjawab tantangan itu dengan sangat baik. Dia tidak mengambil bimbel, dia hanya mempelajari soal-soal tahun lalu dan mengikuti belajar online bersama temannya yang di SMA! Hanya itu saja! Untuk itulah aku langsung memujinya lantas mengasihani diriku setahun yang lalu, gagal mendapatkan universitas impianku beserta jurusan yang ingin kutuju.

Setelah aku berhasil menembus Psikologi, aku mempelajari bahwa mata kuliah ini ada untuk mengejekku, karena sebagian besar isi yang dituangkan di dalam buku menggambarkan tentang kehidupan manusia secara kejiwaan. Kebetulan sekali, selama sebelas tahun sejak aku mengalami penggencetan, aku merasa ada gangguan di dalam diriku yang sulit kuatasi. Buruknya, aku terjebak dalam masa-masa itu dan tidak tahu bagaimana caranya keluar. Tidak ada yang bisa membantuku. Sebanyak apapun nasihat yang kuterima, selalu tidak cukup untuk membuatku lupa akan hal-hal yang membuatku sakit hati dan ketakutan selama 365 hari itu.

***

Semalam, aku berkirim pesan cukup lama dan panjang dengan Kak Cahyo. Seperti biasa, seperti yang sudah aku bahas di atas, aku bertanya bagaimana hasilnya padanya sebelum kami membicarakan hal-hal lain. Namun, kali ini berkirim pesan kami agak berbeda. Tidak biasanya dia membalas dengan tulisan-tulisan panjang, dia bahkan curhat sedikit tentang ketidakpuasannya dengan kuliahnya yang sekarang. Karena dia memulai topik tersebut, aku juga jadi tidak ragu untuk mengeluh tentang kuliahku, terutama teman-temanku. Aku tahu dia seorang yang sangat kritis, free-minded, tidak takut menyuarakan pikirannya, tidak peduli apa kata orang. Berbeda sekali denganku yang meskipun sama-sama kritis dan free-minded, aku masih memikirkan apa yang akan dikatakan orang jika aku mulai membicarakan hal-hal yang sensitif, menyentil hal-hal tabu yang hampir semua orang jauhi agar tidak menimbulkan perdebatan. Sementara aku suka membuka topik-topik seperti itu untuk penyelesaian dan menjawab ketidakpuasanku. Bukan hanya untuk menentang pihak-pihak tertentu yang terkait.

Dulu, aku tidak setakut ini. Aku jauh lebih berani ketimbang semua orang yang ada di kelasku untuk menyuarakan ketidaksukaanku atau perbedaan pendapatku, bahkan aku selalu terdengar mengerikan karena seluruh pernyataanku lebih terkesan seperti pembangkangan. Aku suka itu.

Seingatku, sejak semua orang berusaha menuntutku untuk mundur atau berusaha memukulku ke belakang, aku jadi seakan-akan menyadari bahwa aku harus mendengarkan perkataan orang lain dan aku belum tentu benar. Orang-orang tampak bosan karena aku selalu jadi yang paling berani, sekali-sekali aku harus memberi kesempatan pada mereka yang belum bisa. Sayangnya, ketidaknyamananku berlanjut sampai sekarang hingga akhirnya aku tidak mampu bersuara lagi. Maka dari itulah aku berhenti menyuarakan pikiran-pikiranku secara bebas. Hanya jika aku bertemu orang-orang yang sependapat atau setidaknya enak diajak berbicara, tidak langsung mengonfrontasiku dengan nada mengintimidasi, aku akan sangat senang berbagi pendapatku dengan orang tersebut.

Melihat Kak Cahyo membuatku teringat akan Rino. Tidak hanya pemikiran-pemikirannya saja yang mirip seperti yang disuarakan Rino, nada pemberontakannya pun mirip seperti dia. Keunikan cara berpikir dan apa yang disuarakannya pun mirip dia. Ajaibnya, wajahnya pun hampir sembilan puluh persen mirip dia. Hidungnya, bentuk mulutnya, kacamatanya…. Kecuali bentuk wajah dan tinggi badan. Setiap kali aku melihat Rino, aku terbayang Kak Cahyo. Setiap kali aku melihat Kak Cahyo, aku terbayang Rino. Dan begitulah seterusnya.

Awalnya, kupikir Rino itu adik Kak Cahyo, sampai aku melihat foto kakaknya yang sama sekali tidak mirip dia dilihat dari sudut manapun.

Satu hal yang ‘si kembar jarak jauh’ ini perdebatkan denganku adalah agama, mereka sama-sama memperdebatkan agama, denganku. Aku sudah biasa menghadapi Rino yang memang seorang ateis (dari sudut pandangku, sebenarnya pemahaman agamanya sangat bagus, sayang dia terlalu logis), tapi aku terkejut bukan main ketika aku mengetahui bahwa Kak Cahyo juga memiliki beberapa indikasi untuk menjadi…. ateis. Sebenarnya, aku sudah mencium beberapa hal yang kutakutkan akan membelokkannya menjadi seorang peragu agama. Yaaah, setidaknya keraguanku terjawab sekarang, rasanya sama seperti saat aku akhirnya mengetahui bahwa sepupuku sebenarnya seorang non-muslim ketika dia mengunggah foto-foto acara keagamaannya di gereja. Kemudian, aku bersedih hati saat mengingat aku pernah diimami shalat olehnya.

Oke, anyway, lanjut ke cerita Kak Cahyo. Setelah mengeluh tentang ketidakpuasannya berkuliah, dia kemudian bertanya padaku apakah aku pernah meragukan Tuhan dan kitab sucinya, pernahkah aku membaca Al-Kitab. Aku menjawabnya dengan jawaban paling masuk akal yang bisa kukatakan: aku tidak sedikitpun meragukan tuhanku dan kitab sucinya, aku tidak pernah membaca Al-Kitab secara menyeluruh kecuali aku mendengarnya di acara-acara Natal yang disiarkan stasiun televisi pada pagi hari sebelum kartun ditayangkan pada jam-jam berikutnya.

Dia bercerita bahwa dia pernah berdebat tentang isi Al-Kitab dengan temannya yang Kristiani, sampai temannya berang dan memarahinya. Aku bilang padanya, itu hanya salah satu faktor yang bisa membuat pecah umat beragama, memperdebatkan kitab suci agama lain yang bukan urusan kita. Boleh saja kita mengetahui isi kitab orang lain lalu membandingkannya dengan milik kita, tapi jangan jadikan itu sebagai senjata untuk menyerang satu sama lain karena kitab-kitab itu tidak ada hubungannya dengan perselisihan kita. Manusia yang membacanya lah yang bermasalah lalu mulai menjadikan agama kita lebih superior daripada yang lain dan akhirnya menimbulkan kesombongan yang berakibat lebih fatal dari apapun.

Aku semakin enggan menjawab pesan-pesannya meskipun aku menyadari aku sangat ingin berbicara dengannya karena aku rindu dengan debat-debat yang kami lakukan di dalam kelas sebelum pelajaran di tempat bimbel, ketika aku mulai menjabarkan sedikit tentang bagaimana cara Rasulullah SAW menuliskan sunnah-sunnahnya sementara beliau sendiri tidak bisa baca tulis. Bagaimana beliau sangat mempercayai sahabat-sahabatnya untuk menuliskan ayat-ayat Al-Quran dan dalil-dalil dari-Nya yang diturunkan kepada Rasulullah SAW di atas alat-alat tulis yang ada pada saat itu, hanya ayat-ayat yang turun langsung dari Allah SWT saja lah yang boleh ditulis pada zaman itu, tidak boleh ada tulisan-tulisan lain karena dikhawatirkan akan tercampur dengan ayat-ayat suci dan disalahartikan oleh umat manusia lain sehingga kemurnian ayat-ayat menjadi tidak utuh lagi.

Aku sampai harus menjabarkan itu padanya agar dia mengerti. Cukup lama sampai akhirnya dia membalas penjelasanku yang panjang lebar itu. Singkat, tapi membuat hatiku cukup panas dan rasa kantukku meningkat hingga aku berpikir aku lebih suka tidur daripada membacanya lagi. “Argumen dan pendapatmu itu bisa dipatahkan.”

Rasanya aku ingin sekali menjawab, meskipun aku suka berfilsafat, tapi aku sadar tidak semua hal patut untuk dipertanyakan. Hal-hal yang bukan urusan kita dan jauh dari jangkauan akal sehat kita tidak sebaiknya kita pertanyakan, terutama mempertanyakan soal agama yang hari akhirnya pun masih menjadi misteri, seperti hal-hal lain yang disembunyikan di dunia dan akan terkuak hingga saatnya. Sebelumnya, Kak Cahyo memperdebatkan isi Al-Kitab yang sebagian besar ditulis oleh tangan manusia, bukan murni dari Tuhan mereka. Itulah alasan mengapa penjelasan-penjelasanku bisa dipatahkan jika nanti aku berdebat soal ini karena mereka bisa memutarbalikannya dengan mudah.

Silakan saja mereka melakukannya, tapi aku tetap berprinsip bahwa agamaku adalah agamaku, agamamu adalah agamamu. Apa yang kamu pertanyakan, perdebatkan, dan ragukan itu ada di dalam ayat-ayat kitab suciku, bukan berasal dari mulutku. Aku tidak mau mencampuri urusan agama lain karena aku takut kekhawatiranku terjadi dan menimbulkan kemarahan pribadi dalam diriku, yang paling penting aku tidak mau terlalu terbawa arus sampai aku akhirnya meragukan agamaku sendiri.

Aku sempat mengalaminya, tapi Tuhan masih berbaik hati padaku sehingga Dia menarik kerah bajuku ke dekapan-Nya dan menamparku sekeras-kerasnya sampai aku menyadari bahwa tidak semua hal bisa dipertanyakan. Aku tidak seharusnya mempertanyakan hal di luar nalarku sebagai manusia biasa. Akal pikirku tidak terbatas, tapi ada sesuatu tak kasat mata yang secara tidak langsung  membatasinya.

Manusia punya batas pemikirannya sendiri, ada hal-hal yang sebaiknya kita turuti saja demi kebaikan dan tidak sepatutnya membangkang. Sama halnya ketika semua manusia di dunia ini meminta kita untuk patuh pada orang tua kita. Ketika kita bertanya, mengapa? Jawabannya mudah, karena hanya itulah yang harus kau lakukan. Sulit, memang, tapi itu semua demi kebaikanmu. Namun, dalam hal ini, orang tua tetaplah hanya manusia biasa. Ketika beliau melakukan kesalahan, kita tidak seharusnya menghujatnya dan menyalahkannya. Dia sama seperti kita, anak-anaknya. Hanya kebaikan lah yang bisa diberikan oleh orang tua kita. Di luar itu, kita berhak memilih jalan kita sendiri.

Kitab suci adalah sesuatu yang murni mengajarkan kebaikan bagi diri kita, tidak ada yang tidak sesuai di dalamnya untuk kita terapkan di kehidupan kita. Apapun kitab itu, agama apapun itu, kita sudah tenang di dalamnya dan tidak sebaiknya kita mengusik milik orang lain hanya demi menunjukkan bahwa kita lah yang paling benar kemudian kita berselisih tentang hal itu. Jika ada orang yang keluar-masuk agama, itu urusan mereka. Tugas kita hanyalah membimbingnya ke kehidupan setelah itu. Wallahua’lam bish-shawab.

Agamaku adalah agamaku, dan agamamu adalah agamamu

***

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
Aside | This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s