(Maunya) Dijajah Inggris

Sering kudengar kelakar teman-temanku ketika masih bersekolah dulu tentang:  lebih enak dijajah bangsa apa, Belanda, Portugis, atau Inggris? Fakta bahwa bangsa Indonesia dijajah bangsa Belanda selama 350 tahun dan dipekerjakan sebagai buruh kasar (baca: budak) membuat aku dan teman-teman berspekulasi tentang kemunduran yang dialami negara kaya kami saat ini. Jepang juga sempat menjajah bangsa kami selama 3,5 tahun. Gara-gara mereka, wanita sempat dijadikan dan dipandang hanya sebagai ‘mainan’ yang boleh-boleh saja dilecehkan dan dipergunakan sesukanya pada masa itu. Apakah berhubungan dengan penjajahan yang waktunya mungkin terasa selamanya bagi orang-orang pribumi saat itu?

Jawaban kami selalu, iya. Tidak pernah berubah dari hari ke hari, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun ketika kami mendiskusikannya kembali. Tampaknya, kami menyetujui pernyataan itu secara umum, berdasarkan fakta–fakta yang kami kumpulkan dari buku-buku sejarah sekolah. Ada satu nama penjajah yang sangat kuingat, dulu, sebelum aku lulus SMA dan menjadi mahasiswi Psikologi dan dicekoki beragam buku yang tidak ada lagi hubungannya dengan pelajaran-pelajaranku ketika masih memakai seragam sekolah.

Bukan, mungkin. Benar juga kalau dibilang setelah dijajah Belanda, bangsa kami menjadi–selain terpuruk–terbelakang. Why?

1. Indonesia dijajah selama 350 tahun

2. Penduduk asli Indonesia malah disuruh kerja keras alias kerja rodi sama pemerintah Belanda dengan mendapatkan hasil sedikit

3. Pemerintah terbiasa dengan kerja sama tidak halal dengan pemerintah Belanda untuk melancarkan monopoli perdagangan (Bagaimana korupsi tidak menjamur sekarang ini?)

4. Banyak jalanan Indonesia yang merupakan hasil kerja paksa selama masa pemerintahan Belanda. (Sisi baik: All hail, jalan tol dan tempat wisata!)

5. Selama masa penjajahan Belanda, pendidikan terbaik disediakan hanya untuk anak-anak Belanda, sementara sekolah-sekolah kecil kategori jelek diberikan untuk pribumi. Baru bertahun-tahun setelahnya anak-anak Indonesia diizinkan bersekolah di sekolah yang lebih bagus, bahkan setara dengan sekolah anak-anak Belanda

6. Hak perempuan untuk mengenyam pendidikan masih sangaaaaat terbatas, sampai turunlah malaikat bernama Raden Ajeng Kartini.

7. Terlalu banyak perjanjian yang dibuat antara pihak Belanda dan Indonesia yang dilanggar. Akibatnya, perbuatan ini ‘ditiru’ oleh pemerintah kita pada zaman sekarang yang juga hobi mengobral janji. *oops

8. Dulu, barang-barang yang dijual ke Belanda adalah komoditas sumber daya alam berharga yang seharusnya bisa menjadikan rakyat Indonesia kaya raya sekaya-kayanya. Sekarang, SDA Indonesia banyak yang dieksploitasi dan menyebabkan kemiskinan secara materi, dan moral.

9. Banyak kisah-kisah yang saya dengar tentang patih-patih bejat yang bekerja sama dengan Belanda, mengikuti gaya hidup Belanda, berpihak pada Belanda, hingga mengkhianati rakyatnya, tetapi habis juga pada akhirnya. Saya sedang menunggu kelanjutan kisah hidup kita sekarang ini yang katanya mulai niru-niru orang bule. Fenomena yang kita sebut sebagai Westernisasi.

10. Saya lupa mau menuliskan apa di nomor sepuluh ini, yang saya ingat gara-gara hobi menjual apa saja demi ditukarkan dengan emas dan barang-barang berharga lainnya dari kumpeni, masyarakat Indonesia jadi suka terima uang. Menghalalkan apa saja asal bisa mendapatkan uang untuk bertahan hidup, tidak peduli bahwa sumber daya yang kita punya semakin menipis.

Dari hal-hal yang saya sebutkan di atas, Anda pasti berpikir dulu bangsa Belanda itu jahat banget. Tidak menorehkan apa-apa yang berarti bagi Indonesia kecuali ketakutan dan kebangkrutan, yang memang pada akhirnya menumbuhkan kekuatan yang sangat besar untuk menumpas para penjajah. Hanya saja, dari hasil diskusi kami, bangsa Inggris meninggalkan sesuatu yang sangat berarti bagi Indonesia. Thanks to Thomas Stamford Raffles, beliau lah orang yang menemukan bunga bangkai yang terkenal di Taman Raya Bogor–sekarang jenis bunga yang baunya (katanya) memang ‘seharum’ sampah dan bangkai ini bisa ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Beliau juga yang meletakkan dasar ilmu pengetahuan botani untuk masyarakat Indonesia pelajari, ternyata banyak kan hasil-hasil bumi yang bermanfaat di Indonesia?

Inggris, meskipun juga ikut menjajah kami, membiarkan kami bereksplorasi dan mengenyam pendidikan. Mereka tidak pelit berbagi ilmu dan hasil yang orang kita dapatkan untuk kita. Yaaah, memang sih dijajah dijajah juga. Namun, aku dan teman-temanku setuju bahwa seandainya Inggris menjajah lebih lama lagi, kita memiliki kesempatan untuk memperluas wawasan kita, bahkan mungkin menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua agar kita bisa berkomunikasi dengan baik dengan orang asing, since English is a universal language.

Lihat saja Singapura, Malaysia, Australia, dan India, sebagai contoh. Mereka adalah negara jajahan Inggris yang sekarang dikategorikan sebagai negara maju. Saya tidak mengatakan bahwa Inggris adalah satu-satunya alasan sebuah bangsa bisa menjadi pintar dan cerdas dan memiliki martabat, tetapi dari fakta-fakta lapangan yang membuktikan Inggris, dengan kekuatannya (dan gaya menjajahnya) tidak melulu menorehkan keburukan seperti bangsa penjajah lain. Pastilah mereka telah berbagi resep, nilai-nilai yang ditanamkan kepada masyarakat bangsa jajahannya sehingga mereka bisa menjadi negara maju sekarang ini. Amerika Serikat juga sempat dijajah Inggris, tetapi AS akhirnya melawan dan merdeka dari Inggris bahkan membuktikan mereka bisa menjadi negara adidaya di muka bumi ini.

Pun kita tidak lama dijajah Inggris dan sangat lama dijajah bangsa lain yang lebih rakus, ternyata kita tidak cukup cerdas menggunakan pengalaman nenek moyang untuk tidak terlalu terpengaruh oleh kebaikan atau kejahatan orang lain–dalam hal ini, bangsa lain–pada kita. Justru tertanam hal-hal yang buruk dan parahnya diturunkan dari generasi ke generasi yang malah akhirnya menghancurkan bangsa sendiri.

Terlepas dari apakah benar bangsa penjajah memengaruhi kualitas bangsa jajahannya, yang jelas Indonesia memang telah kehilangan akar-akar budi pekerti yang sudah susah payah dibangun oleh nenek moyang agar kita memiliki identitas dan jati diri yang jelas. Ketidakarifan orang kita untuk memutuskan hal-hal yang mungkin merugikan dirinya, kelak akan merugikan negaranya. Entah kapan, tetapi bisa jadi.

Xoxo,

Ayuri

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s