The Ballad of a Wishful Orphan Teenage Girl (1)

Dia baru saja pulang kuliah, baru saja mau menghela napas setelah mengumpulkan tiga tugas penulisan makalah yang dikerjakannya dalam waktu seminggu–dua tugas kelompok, satu tugas individu–gadis itu ingat dia harus berangkat lagi ke tempat kerjanya di Cikini. Betapa melelahkannya! Dia baru menjalankan kehidupan kuliah-kerja ini selama sebulan, tetapi dia sudah merasa jenuh, ketidakmampuan dan ketidakberdayaan menghantuinya. Apakah aku bisa?

Setelah menunaikan shalat Ashar, dia melirik jam tangan mungil berwarna hitam, hadiah dari ibunya yang entah untuk apa. Nilai bagus, lulus UN, berhasil masuk perguruan tinggi negeri? Yang jelas, arloji itu sudah bertengger di pergelangan tangannya yang kecil selama setahun. Jarum detiknya lepas, rontok karena basah. Gadis itu lupa mengeluarkan jam tangan itu dari saku celananya, tidak sengaja kakaknya yang saat itu mencucikan bajunya menggilingnya di dalam mesin cuci bersama dengan baju-baju kotor lain. Ketika jam tangan itu dia keluarkan dari dalam sakunya, dia hanya bisa mendesah, “Astaghfirullah.”

Untung masih menyala, batinnya dalam hati. Diputarnya pergelangan tangan kecilnya, mengingat saat-saat jam itu hampir mati total. Karena itu hadiah dari ibunya, sebisa mungkin dia menjaganya, minimal tetap memakainya selama mungkin. Angannya, walaupun pada akhirnya jam tangan itu harus mati, dia ingin tetap memakainya. Ini bukan pertama kalinya gadis itu, Lily, dengan ceroboh meninggalkan barang-barang bukan anti-air di dalam saku celana, atau apapun yang memiliki saku. Berkali-kali dia meninggalkan headset di dalam saku, banyak headset yang harus merasakan dinginnya air cucian dan wanginya detergen lalu keluar dari dalam mesin mengerikan itu yang telah merusak komponen-komponen di dalamnya. Yang terparah dari semuanya adalah, pemutar musik seukuran sedikit melebihi jari tengahnya, juga pernah ikut merasakan ganasnya putaran mesin cuci.

Segera dia membereskan barang-barangnya di dalam tas, juga memeluk buku-buku yang sudah tidak muat lagi masuk ke dalam tasnya. Dia mengucapkan selamat tinggal kpeada teman-temannya, lalu pergi. Dengan seluruh pikiran beterbangan kemana-mana, Lily tidak bisa tidur di dalam bus, sesuatu yang biasanya dengan mudah dia lakukan jika dia sedang bepergian. Jika memungkinkan dan tidak membahayakan dirinya, Lily bisa tidur di atas motor. Dia sering melakukan itu sewaktu SMA, saat pamannya mengantarkannya dengan sepeda motor, tahu-tahu Lily merasa wajahnya diterpa angin sejuk saat dia tertidur. Ternyata, motor pamannya sudah melaju di atas flyover Pasar Rebo, parahnya, ternyata pamannya sedang mengajaknya bicara. Bakat terpendam Lily: mendengarkan cerita sambil setengah tidur.

Mobil, motor, truk, bus, lalu lalang secara bergantian di luar bus. Sampai di satu jalan, semua jenis kendaraan itu tampak memadat, memblokir jalanan dengan masing-masing pengendara memukul-mukul klakson dengan tidak sabar. Seandainya bisa, Lily ingin minta supir bus berhenti dan lebih memilih ke tempat kerjanya dengan jalan kaki, atau setidaknya berjalan kaki sampai menemukan kendaraan terdepan dari barisan kemacetan yang tidak kenal permisi dan sopan santun itu. Tapi, tentu saja Lily tidak bisa. Meskipun busnya kosong–hanya tiga orang di dalamnya, termasuk LIly sendiri–dan Lily memiliki kesempatan besar untuk minta turun, di luar hujan, jalanan pasti becek. Itulah penyebab padatnya jalanan.

Lily merasa sial. Sudah berlama-lama dia menunggu bus tiba karena jarangnya bus ini lewat di jalanan, dengan payung dan berdiri memeluk tasnya agar tidak terlalu basah, dia juga harus terjebak kemacetan lagi setelah paginya dia mengalami hal yang sama. Kemacetan, di mana pun itu, terlihat sama. Sama-sama menyebalkan, sama-sama menyesakkan. Lily hanya brharap dia tidak terlambat tiba di tempat keranya karena dia ingin memberikan kesan yang baik kepada senior-seniornya di organisasi tempat dia bekerja itu.

***

About Ayuri

A not-so-elegant, classic girl, who loves writing, reading, dreaming (unlike daydreaming coz it's not good for me), and debating with my brother. I think I can see this world better if I ever experience something somewhere. By my own.
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s